Minggu, 31 Desember 2017

Rosmal: Sosok Ibu Peradaban di Sekolah Alam


Sekolah Alam Memanggil..

Ini kali kedua saya merencanakan untuk berkunjung ke Sekolah Alam di Desa Salule’bo, Mamuju Tengah. Rencana pertama gagal dikarenakan beberapa hal, dan alhamdulillah, pada rencana kedua segala kemudahan menyertai. Sungguh sebuah karunia ketika akhirnya saya berkesempatan menjejakkan kaki di salah satu sudut bumi Tuhan, di Bumi LallaTassisara bersama teman-teman yang mengatas namakan dirinya “Relawan Peduli Sekolah Alam”. Sekolah alam, sekolah kolong tanpa seragam. Tak banyak yang kuketahui kecuali sedikit gambaran tentang kegiatan pembelajaran adik-adik yang ada di sana, baik melalui gambar maupun video yang dishare teman-teman volunteer melalui dunia maya, ditambah lagi dengan hasil bincang-bincang bersama beberapa teman yang sudah berkesempatan untuk berkunjung yang kemudian membuat diri ini tertarik untuk berkunjung kesana.

Pukul 11.00 pagi, kami berangkat dari kota Mamuju menuju desa Salule’bo’, tempat sekolah alam berada. Setelah melewati perjalanan panjang, disambut gelap malam dan rintik hujan yang sepanjang perjalanan menemani, serta jalan terjal dan licin yang menguji adrenalin, akhirnya Pukul 21.00 WITA, suara keceriaan adik-adik terdengar samar-samar di balik sebuah rumah berdinding papan, mengartikan bahwa kita telah tiba di tempat tujuan, sebuah rumah yang kemudian disulap menjadi sesuatu yang melebihi rumah sebagai tempat untuk berteduh, melainkan tempat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Yah sekolah Alam. Saya berada disini.

Tentang sekolah alam, di sana ada begitu banyak hal menarik yang disuguhkan dan saya kemudian seperti penyeduh yang senantiasa berkawan dengan rasa haus. Tentang metode pembelajaran, cinta dan kasih sayang, kedamaian, kecerian, kebersamaan, semangat yang menggebuh gebuh, kreatifitas tanpa batas, juga tentang toleransi. Kawasan tanpa internet membuat saya tentunya lebih banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi secara langsung dan menikmati kebersamaan dengan mereka. Maklum, secara pribadi, saya adalah pengguna internet aktif yang kemudian mencoba keluar dari zona nyaman dengan mengunjungi tempat yang tak memiliki akses internet. Jangankan untuk mengakses internet, menggunakan jaringan seluler untuk melakukan panggilan telepon saja sangatlah sulit. Benar, ini adalah hutan. Mereka harus berpindah dari tempat satu ketempat yang lain hanya untuk mendapatkan beberapa balok sinyal di layar telpon genggam, yang kemudian digunakan sebaik mungkin untuk berkabar. Dilain hal, disambut dengan ramah adalah kemudahan bagi kami untuk berbaur dan melakukan aktivitas bersama-sama. Hubungan yang kemudian tergambar seolah telah saling mengenal bertahun-tahun karenakan keakraban yang terbangun berhasil mereka ciptakan dalam kurun waktu yang sangat singkat.

Sama seperti saya pulang ke rumah, orang pertama yang ingin kutemui adalah Ibu. Pun ketika tiba di Sekolah Alam, tak berubah sama sekali, yang paling pertama ingin kutemui adalah sosok Ibu dalam rumah harapan tersebut. Kunamai rumah harapan sebab ada begitu banyak harapan yang ditancapkan di sana. Tapi keadaan berkata lain, salah satu volunteer malam itu tiba-tiba pingsang karena kelelahan. Saya dan beberapa teman perempuan kemudian beralih mengurusi dan menemani sampai keadaannya mulai membaik. Setelah itu kami diarahkan ke ruang depan untuk diperkenalkan dengan murid-murid yang ada di Sekolah Alam. Di sana, tak kutemui ia dalam penyambutan kami. Lelaki yang kukenali lewat gambarlah yang kemudian menyambut kami dengan penuh suka cita dan mengarahkan kami untuk segera masuk kerumah. Dia adalah Aco Muliadi. Nama yang paling sering menjadi buah bibir teman-teman sesaat setelah berkunjung ke sekolah alam. Lalu Ibu dimana ?

Kami menutup malam yang diisi dengan perkenalan dan diskusi ringan. keesokan  harinya saya terbangun dengan mata yang separuh terpejam akibat tidur dalam kondisi sangat lelah. Rasa penasaranpun dengan sigap menyerang, ingin mengetahui akan sosok Ibu di rumah itu. Lalu saya bergegas dan segera mengamati rangkaian aktivitasnya. Empat hari di sana, kutemukan ia lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. Bangun lebih awal di pagi hari telah menjadi kebiasaannya. Menyiapkan segala sesuatu dan memastikan bahwa semuanya telah sarapan sebelum memulai aktivitas di pagi hari menjadi sebuah keharusan baginya. Perempuan pemilik wajah bulat dengan kerutan-kerutan yang jelas terlihat ini sangatlah gesit, memiliki semangat tinggi dan aura keceriaan senantiasa bersamanya. Ia hadir sebagai Ibu, kakak dan layaknya teman sebaya. Hampir Setengah abad berada di alam semesta, tak pelak membuatnya kehilangan semangat untuk tetap melakukan pengkhidmatan atas nama kemanusiaan. Tentang keadilan yang diterapkan dalam rumah harapan tersebut, ditepiskannya perbedaan perlakuan antara anak kandung dan anak-anak yang tinggal dan belajar di sana. Semua sama, hingga akhirnya anak-anakpun merasa nyaman dan aman. Sungguh sebuah pendekatan yang sangat luar biasa.

Saya percaya, bahwa setiap laki-laki yang sampai pada puncak kemanusiaan yang tinggi, pastilah berutang budi kepada perempuan yang mendampingnya. Rasa penasaran saya terhadap sosok perempuan yang mendampingi perjuangan seorang Aco Muliadi atau yang akrab disapa Uwe’ Aco bukan berkurang setelah melihatya, malah semakin bertambah. Banyak hal yang kemudian ingin kutanyakan terkait keputusannya untuk memilih berjuang di hutan belantara. Memilih untuk menjadi Ibu dalam masyarakat. Saya jadi teringat dengan sebuah buku yang beberapa bulan lalu sempat kubaca. Dalam buku tersebut, mengutip pidato presiden Iran keenam Ahmadinejad, bahwa mustahil dalam sebuah masyarakat akan terjadi perubahan sosial bila perempuan tidak dilibatkan. Setiap perubahan sosial membutuhkan bantuan perempuan. Inilah yang kemudian menghadirkan ide untuk melakukan wawancara dengan ibu.

Kebebasan dalam menentukan masa depan sendiri

Pagi itu saya dan ibu sedang berbincang-bincang, tepatnya wawancara singkat. Tempatnya tentulah di dapur. Meskipun awalnya saya dilarang berlama-lama di dapur, entah apa alasannya, tapi itulah ibu. Pemilik nama Rosmal ini menceritakan kisah hidupnya yang dimulai dari ia yang dikenal dalam keluarga sebagai gadis pemberontak, hingga usahanya dalam berjuang sebagai pekerja sosial bersama lelaki yang dicintainya di hutan belantara desa Salule’bo. Mereka memilih menghibahkan dirinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dipelosok negeri, jauh dari karamaian kota adalah pilihan yang harus mereka buat. Hidup sederhana adalah sebuah kenikmatan baginya. Bukan mereka tak mampu hidup bergelimang harta, tapi mereka memilih, memilih untuk peduli.

“Kita haruslah merdeka dalam segala hal, termasuk menentukan jalan hidup” Tegas ibu.

Ibu berasal dari latar belakang keluarga yang berada, tapi memiliki harta yang banyak justru malah membuat keluarga besarnya enggan untuk bersekolah. Sebab mereka menganggap, bersekolah itu tujuannya hanya untuk mencari pekerjaan dan menghasilkan uang. Hal inilah yang kemudian menjadikan ibu sebagai pemberontak dalam keluarga. Ia menolak pemikiran seperti itu dan kemudian memilih untuk sekolah meskipun tanpa izin orang tua. Berbagai cara telah ia lakukan untuk meyakinkan orang tua tentang pentingnya sekolah, melakukan pembuktian melalui prestasi yang telah ia raih di sekolah dan banyak pencapaian-pencapaian yang ia peroleh. Tapi, tetap saja hasilnya nihil.  Bahkan Orang tua tak kunjung menyetujui keinginannya untuk bersekolah. Parahnya lagi, sipemberontak ini malah diiming-imingi hadiah berupa perhiasan, sepeda motor dan perabotan lain jika ia memilih untuk tidak sekolah.  

Perempuan kelahiran palu 1965 ini telah meyakini bahwa dirinya tak akan tergiur dengan sesuatu yang sifatnya akan menjadi ancaman bagi pilihannya untuk bersekolah. Ia tetap menolak. Hingga setelah selesai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia kembali ingin melanjutkan studinya. Sekolah Menengah Pekerja Sosial adalah wadah pilihannya untuk kembali belajar. Tentu bukan hal mudah untuk memilih disamping tak ada restu dari orang tua. Jarak tempat tinggalnya dan sekolah sekitar kurang lebih 80 km. Jarak tak menjadi penghalang baginya, ia tempuh dengan bekal yang seadanya dan belajar mandiri sejak itu. Hingga akhirnya ia menjadi orang pertama dalam keluarga yang berhasil menyelesaikan studi sampai tingkat sekolah menengah atas. Waktu sekira empat tahun adalah tahap lanjutan perjuangan ibu melakukan perlawan. Keinginannya untuk besekolah harus dibayar dengar tidak patuhnya ia atas keinginan kedua orang tuanya.

Berlatar belakang pendidikan sosial, ibu yang kemudian memilih jalan menjadi pekerja sosial akhirnya terbentuk dengan karakter yang baik serta memiliki kepedulian yang sangat tinggi. Baginya persoalan kemanusiaan adalah tugas kita bersama, sebab manusia tak akan mampu hidup seorang diri. Dunia yang disenanginya pun kemudian mengantarkan ia bertemu dengan tambatan hatinya. Dia adalah Aco muliyadi. Sama-sama berjiwa sosial dan berlatar belakang pekerja sosial akhirnya tak sulit bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain. Lelaki yang saat ini menjadi ayah dari anak-anaknya merupakan lelaki yang dianggapnya sebagai sosok yang yang tangguh, bertanggungjawab serta konsisten dalam menjalani pilihannya. Ia merasakan adanya chemistry diantara mereka berdua. Dan akhirnya memilih untuk meresmikan hubungannya pada tahun 1989.

Bukan hanya persoalan pendidikan ibu menjadi pemberontak dalam keluarga, bahkan tak ada keputusan yang dibuat tanpa persetujuannya.  Karena konsistensinya dalam menjalani sebuah pilihan hidup, orang tuanyapun kemudian memberikan kebebasan untuk memilih jalan hidup, termasuk memilih pasangan.

Akhir dari perjuangannya sebagai pemberontak dalam keluarga berbuah positif, kini dalam keluarganya, sekolah tak lagi dipandang sebelah mata, bahkan sekolah telah dianggap sebagai kebutuhan untuk memperbaiki kualitas diri. Ibu berhasil membuktikan bahwa harta akan habis pada masanya sedang ilmu akan abadi sampai akhir hayat.  Kini ia menua, tergambar jelas kekhawatiran di raut wajahnya, Ada kerisauan disetiap hembusan nafasnya, menginginkan adanya penerus untuk perjuangan yang telah ia rintis sejak dulu bersama suami adalah harapan terbesarnya.  Lalu apakah kita siap untuk melanjutkan perjuangannya?
........................................................................................................................................................
    “Perempuan memiliki kekuatan yang luar biasa, yaitu kekuatan cinta dan kasih sayang, dan inilah sebabnya Allah memercayakan begitu banyak amanah dipundak para perempuan untuk turut serta berperan dalam mengelolah dunia.”
 – Ahmadinejad




Akhir tahun: Refleksi dulu baru Resolusi


Beberapa jam lagi kita akan memasuki tahun baru 2018. Tentang seremonial perayaan tahun baru tentu telah mendapati titik klimaks dalam perbincangan akal dan ego kita masing-masing. Polemik tentang perayaan tahun barupun hampir memadati timeline di berbagai media sosial, hingga keyakinan keberagamaan ikut terseret di dalamnya. Bolehkah kita (Umat Muslim) merayakan tahun baru? Pertanyaan ini kemudian menuai banyak pendapat, baik pro maupun kontra. Komentar dari berbagai kalangan pun tak ketinggalan sebagai pemantik bahwa mereka punya keyakinan akan hal tersebut. Pelabelan bid’ah hingga kafir dengan gampang disematkan kepada orang-orang yang memiliki persepsi yang berbeda satu sama lain. Lalu bagaimana kita menyikapi tahun baru masehi?

Pada dasarnya semua kita merayakan tahun baru masehi. Memiliki keyakinan yang berbeda tentu meniscayakan perbedaan pula dalam bertingkah laku. Sebagian orang memilih untuk merayakan tahun baru dengan berhura-hura, berkumpul bersama orang terkasihnya, juga ada yang memilih untuk tinggal dirumah merenungi perjalanan hidup setahun belakangan dan masih banyak lagi metode-metode yang biasa dilakukan. Kita hanya perlu menyikapi dengan cara bertoleransi terhadap hak pribadi untuk bertindak sesuai hak-haknya sendiri yang tentu dibatasi oleh hak-hak dari pribadi lain.

Tahun baru masehi selain identik dengan perayaan, juga identik dengan kata resolusi. Resolusi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang). Hingga berujung pada perluasan makna, secara umum resolusi diartikan sebagai sebuah pernyataan komitmen yang akan kita penuhi dalam hidup. Sebenarnya tidak mesti menunggu tahun baru untuk membuat resolusi, kita bisa membuatnya kapan saja. Tapi karena ini telah menjadi budaya tahunan bahkan menjadi sebuah keharusan bagi sebagian orang, yah sah sah saja, selagi tidak melanggar aturan dan norma yang ada.

“Tahun Baru Resolusi Baru”. Kalimat viral dipenghujung tahun. kehadirannya mencipta poin-poin harapan, dimulai dari hal-hal yang spektakuler hingga sesuatu yang kadang-kadang dianggap remeh, misalnya menerapkan pola hidup sehat dengan cara memenuhi asupan air untuk tubuh setiap harinya, menabung untuk masa depan, mensyukuri semua hal yang telah kita capai dan masih banyak lagi.

Tak ada salahnya membuat resolusi tahun baru. Hanya saja kita butuh mengukur diri, sejauh mana kita mampu merealisasikan rencana yang sudah ditetapkan pada tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana caranya? Tentu dengan merefleksikan diri. Socrates, seorang filsuf yunani pernah berkata: “Hidup yang tak pernah direfleksikan adalah hidup yang tak pantas untuk dijalani”. Merefleksi dalam arti paling umum bersifat memeriksa. Apa yang perlu diperiksa? Memeriksa satu tahun yang sudah kita lewati dengan berbagai macam kisah, sejauh mana konsistensi diri atas komitmen yang telah dibuat, kendala apa saja yang ditemui, dan strategi apa yang dilakukan sebagai jawaban dari permasalahan yang ada.

Sejatinya refleksi akhir tahun adalah proses evaluasi pencapaian dan mengukur konsistensi diri, menemui seonggok permasalahan yang telah kita lewati, hingga kemudian menjadi acuan untuk membuat resolusi, baik resolusi baru maupun resolusi yang diperbarui. Sisi positif dari resolusi adalah mampu memberikan arah. Memudahkan kita untuk mengejar impian dengan pola yang telah kita buat berdasarkan pengalaman dan cara pandang, terlepas berhasil atau tidak bergantung sejauh mana kita mampu konsisten terhadap apa yang telah menjadi komitmen. Jadi, Sudahkah kalian membuat resolusi?

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------











Jumat, 22 Desember 2017

Hujan di Bulan Desember



Desember memang berhasil menarik perhatian. Selalu menyisakan rindu untuk menantinya kembali dipenghujung tahun. Kalau ditanya apa yang paling kamu nantikan di Bulan Desember, Jawabanku tentulah Hujan. Dulu sewaktu aku masih kecil, Hujan di bulan desember telah menjadi sesuatu yang dinanti dalam keluarga kami. Saat aku bertanya pada Ibu mengapa ia menanti Hujan di bulan desember, beliau hanya menjawab seadanya, katanya Hujan ini adalah Hujan Pembersihan. Apa yang harus dibersihkan? Tanyaku lagi. Yang dibersihkan adalah segala hal yang terjadi selama hampir satu tahun, biar nanti ketika kita memasuki Tahun Baru semuanya kembali bersih, mulai lingkungan sampai harapan-harapan kita. Jawabnya.

Aku terdiam. Bukan mengerti, tapi malah bingung. Bahkan sempat mengharapkan banjir besar segera datang saat itu, karena pikirku Banjir akan menghasilkan banyak air dan tentu akan lebih bersih pula. Maklum, intensitas hujan di bulan Desember memang agak tinggi dari bulan-bulan lain. Tapi itu dulu. Masa kanak-kanak.


"Lalu, masihkah menyukai Hujan di Bulan Desember?"


Hujan, betapapun ia banyak menuai cacian saat orang-orang telah menganggapnya sebagai penghalang, juga tak sedikit dari populasi manusia yang mengingkan kehadirannya. Termasuk Aku. Bagiku Hujan adalah sesuatu yang indah, hadir sebagai peneduh di jagat raya, memberikan kehidupan, menyuburkan tanaman, memberikan sensasi kesejukan bagi penikmatnya dan masih banyak lagi. Namun menjadi Indah tak menyoal semua orang akan suka, tak membahas hanya sebatas komentar positif. Toh, pada kenyataanya Banyak yang tidak suka dan banyak pula yang berakhir pada makian kepadanya.

Pun desember, selalu menghadirkan banyak hal yang sifatnya kadang-kadang tak bisa ditebak. Tentang keluarga, teman, sahabat, orang-orang disekitar kita, alam, dan semua yang ikut nimbrung di muka bumi ini. Desember adalah bulan terakhir dalam penanggalan Masehi yang kemudian menjadikan ia sebagai moment yang pas untuk mengakumulasi semua peristiwa yang ada.

Kota Mamuju, 18 Desember 2017.

Sejak kemarin Kotaku dilanda hujan, sampai pagi ini hingga aku kembali untuk sekedar mengalihkan isi kepala menjadi sebuah tulisan, masih ditemani dengan hujan. Kotaku telah dilanda Hujan hampir 12 jam. Ajaibnya saat ini tak ada tanda-tanda banjir. Kebiasaanku saat hujan turun dengan intensitas tinggi, khususnya dikotaku, adalah menunggu situs-situs pemberitaan online untuk menginformasikan titik-titik banjir, mulai dari yang sedang hingga yang parah. Tapi sebuah kesyukuran, karena sampai pada saat tulisan ini dibuat, belum ada satupun berita yang memuat tentang banjir. Kuanggap ini sebuah kemajuan daerah dan berharap kedepannya lebih baik lagi, kepedulian masyarakat tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya semoga bisa membatu untuk mengurangi potensi-potensi bencana di daerah kita tercinta, di tanah kelahiran kita.

_______________________________________________________

Jumat, 15 Desember 2017

Ketika Air Mata Enggan Menetes


Berselang beberapa hari, air mataku tak kunjung menetes. Padahal aku menantinya untuk mengekspresikan perasaanku saat ini. Jika mengikuti alurnya, mungkin aku ibarat manusia yang telah kehilangan separuh jiwanya sejak kau mengatakan untuk pergi. Tapi, aku tidak merasakan itu. Aku berada pada posisi seimbang, aku tidaklah bersedih mendengarmu mengatakan itu dan juga tidak bahagia saat kita akan berakhir dengan tragis.

Banyak orang yang bilang, bahwa engkau akan lebih mengerti dirimu saat engkau telah melewati serangkaian kisah dalam kehidupanmu. Kau akan tahu letak hatimu, seberapa besar cintamu dan yakinkah dirimu untuk memilihnya. Itulah sebabnya, jangan pernah menghindar. Hadapi dan temui.

Aku tidak membenarkan, juga tak menyalahkan pendapat itu. Aku adalah aku yang punya aturan dan penilaian sendiri terhadap apa yang terjadi dalam hidupku. Tentang keluarga, sahabat, asmara dan segala yang pernah bersamaku memainkan peran didunia ini. Bagiku, segala yang terjadi adalah akibat dari sebab-sebab yang telah kupenuhi. Dan menurutku begitulah hidup.

Malam itu adalah malam keramat bagiku, malam yang tak pernah sama skali terpikirkan untuk terjadi, apalagi dalam hidupku. Dan sialnya, kita ditakdirkan untuk menjadi pemerannya. Tentang kita? Yang masih melekat dalam ingatanku hanyalah sepasang manusia bodoh yang saling menginginkan namun tak saling mengusahakan. Yang mencinta namun tak segan untuk menyakiti. Miris !!!

Dari ujung telpon dengan suara tegas kau menanyakan kabarku. Aku seperti biasa, menjawab dengan penuh tanya dalam hati. Kau tak seperti biasanya. pasti ada hal yang ingin kau sampaikan. Dan benar, malam itu kau meminta izin untuk meninggalkanku. Perdebatanpun dimulai. Kau mencegahku untuk menangis, karena itu menjadi hal yangg paling tidak kau sukai, kau mengingatkan untuk mencari penggantimu.

Aku menjawab dengan tegas, aku tidak menangis dan tak akan menangis, aku tak akan marah dan tak akan membenci, pergilah jika itu inginmu. Tapi ingat, aku mungkin akan sulit melupakan kejadian malam ini. Ini bukanlah sesuatu yang memudahkanmu untuk kembali. Pergilah dengan tanpa meninggalkan rasa bersalah. Sebab mungkin inilah yang terbaik untuk kita. Selama ini Kita senantiasa menemui kesulitan-kesulitan untuk menyatukan rasa, kita senantiasa diliputi rasa ketidakpercayaan satu sama lain, kau yang tidak pernah jelas akan keseriusanmu dan aku yang tidak pernah jelas akan perasaanku. Hubungan macam apa ini? Pergilah dan temukan bahagiamu.

Aku seketika lupa bagaimana caranya menangis, bagaimana caranya marah dan bagaimana caranya membenci. Aku dengan ketegaran yang maksimal hanya mampu menanyakan apa alasanmu meninggalkanku dan menerimanya lalu menutup telpon. Aneh bukan?

Setelah itu aku terdiam tanpa merasakan apa-apa. Tidak sedih apalagi bahagia. Mungkin inilah yang disebut dengan hampa. Akhirnya kehampaan telah mencederai malamku. Malam itu kau hadir sebagai pembohong yang kaku. Malam itu kau seolah tegar untuk mengatakan hal yang tak semestinya kamu katakan. Mengingatkanku untuk tak meneteskan air mata sedang kutahu disana kau melakukannya, mengingatkanku untuk mencari penggantimu sedang kutahu kau tak pernah mengingnkan itu. Lalu kenapa? Jika jawabannya masih tentang ketakutanmu yang tak ingin mengajakku dalam kehidupan yang kau definisikan dengan segala kesusahan, maka aku takkan menangis untukmu. Aku akan berhenti untuk menanti. Aku juga akan benar-benar meninggalkanmu. Kupikir tentang itu kita telah selesai, nyatanya tidak. Dan baiklah, sesuai keinginanmu. Semoga kita berbahagia dengan pengganti masing-masing.

                                             ***

Suatu waktu aku ingin mencoba mengembalikan perasaan itu. Aku ingin menghadirkanmu dalam setiap mimpi-mimpiku. Melibatkanmu dalam setiap keputusan yang ingin kuambil. Tapi tak kutemui lagi dirimu, tak kutemui lagi masa depan yang bahagia bersamamu, bahkan parahnya, aku seperti lupa bagaimana dirimu. Kau benar-benar hilang dari hidupku. Kau yang dulu harapan telah menjadi ratapan di pandanganku. Kau berhasil membuatku melupakanmu tanpa rasa sakit sedikitpun. Mungkin ini jugalah yang menjadi alasan air mataku enggan menetes. Aku menemukannya beku saat mengingatmu.

Tapi aku merindukan sesuatu yang sampai kapanpun akan kukenang meski pada akhirnya ia akan masuk dalam kategori kenangan terburuk. Tentang Kepercayaan. Benar aku merindukannya. Aku tak lagi menemukan sosoknya ketika mengingatmu, ia meninggalkanmu bertepatan kau menilih untuk meninggalkanku. Aku mencarinya, Kepercayaan yang telah kuberikan yang kemudian kau salah gunakan. Lagi dan lagi aku tak menemukannya. Tapi sama seperti kataku dulu, aku tak akan pernah menyalahkanmu, aku tak akan pernah menyalahkan keadaan dan apalagi menyalahkan diriku sendiri.

Aku menganggap ini adalah sebuah peristiwa yang akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih dewasa. Sebuah kisah yang akan membuat kita menjadi lebih kuat, lagi dan lagi. Sebuah kejadian yang nantinya akan kita ceritakan kepada anak cucu kita. Sebuah cerita yang akan kita kenang sebagai manusia yang pernah hidup dan menjalani kehidupan.

Akhirnya legah, aku merasa bahagia. Kita telah menemukan jawaban atas permasalahan yang telah mengutak atik kehidupan kita. Atas semua pertanyaan-pertanyaan yang menghampiri kita. Atas semua kisah indah yang berakhir dengan tanpa keindahan sedikitpun. Atas semua sakit yang pernah terobati oleh rasa yang kita namai sebagai cinta. Tenanglah, sebab aku akan mengenangmu sebagai salah satu orang baik dalam hidupku. Kuucapkan maaf atas segala khilafku, maaf atas kurangnya aku dalam mengertimu, maaf atas tak bisanya aku jadi pendampingmu dan terima kasih telah hadir dalam hidupku. Berbahagialah.

--perempuanmencatat--9

Sebab, Rasa Tak Pernah Salah



Aku adalah rasa yang senantiasa berbaik sangka padamu. Tau tidak? Sebulan terakhir, kutemui dua hal keliru yang kau lakukan,  kufikir itu adalah sebuah kesalahan. Dan jrenggggg... benar, itu salah.

Tapi tiba-tiba hatiku bergejolak, merontah, dan bergegas. Katanya, Itu bukan kesalahan, itu hanyalah hal yang perlu kamu cari tahu lagi, perlu dimengerti, terlebih lagi wajib untuk kamu pahami.

Sial. Mengapa bisa? Semua menjadi baik-baik saja, bahkan empati hadir dengan sigap yang entah asalnya dari mana. Akhirnya, Kutemui diriku yang aneh dan mengesalkan. Selamat..

Ada yang bilang aku sakit, yah itu benar.
Hidupku yg biasa biasa saja dan kemudian dibombardir rasa yang aneh tentulah akan sedikit terguncang. Meskipun sebenarnya tameng keramat kesayanganku masih utuh.

Tapi si tameng malah penasaran. Rasa yang kamu maksud itu apasih? Hmm.. ya Rasa, bagaimana yah? Aku juga sulit untuk menjelaskannya. Intinya, segala tentangnya buatku bahagia. Sana definisikan sesukamu.

Terakhir, aku hanya ingin bilang bahwa bagaimanapun Rasa takkan pernah salah, ia hanyalah jembatan ekspresi. Dan aku? Menikmatinya. meski tanpa kepastian darimu.

Desember: Merayakan Kehilangan



Belum cukupkah kau memahami jarak yang begitu menghantui kita?
Masihkah kau ingin ciptakan spasi demi spasi untuk menghancurkan kita?

Kau melakukan segalanya dengan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi padaku. Hingga kaupun lupa bahwa setiap manusia akan menemui titik jenuh dalam hidupnya.

Yah, aku berhenti, memilih untuk menjalani hidupku tanpamu. menikmati mentari pagi tanpa sinar bayangmu. Menanti senja tanpa kilas senyummu dan menjemput malam tanpa harapan-harapan yang dulu pernah kita buat bersama.

Tidak butuh waktu lama untuk berpindah.
Aku mulai terbiasa. Dulu kupikir aku tak akan bisa sejauh ini, tapi keadaan berkata lain. Pintu harapan seakan terbuka lebar dan menarikku kembali membuat harapan-harapan baru.

Denganmu? Tentu bukan.

Tapi tenang, Aku takkan pernah marah padamu, menyalahkan keadaan apalagi menyalahkan diriku sendiri. Sebab, itu hanya akan terlihat seperti alasan atas sakit yang kuderita. Dan aku tidak ingin terlihat sebegitu menyedihkan.

Tak ada lagi penyesalan, aku telah melakukannya sebaik dan semampuku.
Mungkin kita hanya perlu meyakini, bahwa tidak semua hal akan terjadi sesuai keinginan kita, termasuk keinginan kita dulu untuk bersama yang pada kenyataaannya saat ini kita telah memilih untuk jalan masing-masing.

Aku yang saat ini baik-baik saja menginkan kau disana dalam keadaan yang sama. Aku yang tak lagi menikmati hujan bersamamu juga  telah menemukan cara menikmati yang tak kalah menyenangkan.

Maka berbahagialah. Sebab, selanjutnya kita hanya akan menyusuri kenangan indah waktu itu. Dan jika ingin menangis, maka menangislah ketika sampai pada episode kita yang akhirnya tak bisa bersama.

Sajak Patah Hati

Untuk seseorang yang benar-benar kurindukan malam ini, semoga kabarmu baik di sana. malam ini aku tak kuasa menahan malu kepada lan...