Ini kali kedua saya merencanakan untuk berkunjung ke Sekolah Alam
di Desa Salule’bo, Mamuju Tengah. Rencana pertama gagal dikarenakan beberapa
hal, dan alhamdulillah, pada rencana kedua segala kemudahan menyertai. Sungguh
sebuah karunia ketika akhirnya saya berkesempatan menjejakkan kaki di salah
satu sudut bumi Tuhan, di Bumi LallaTassisara bersama teman-teman yang mengatas
namakan dirinya “Relawan Peduli Sekolah Alam”. Sekolah alam, sekolah kolong
tanpa seragam. Tak banyak yang kuketahui kecuali sedikit gambaran tentang
kegiatan pembelajaran adik-adik yang ada di sana, baik melalui gambar maupun
video yang dishare teman-teman volunteer melalui dunia maya, ditambah lagi
dengan hasil bincang-bincang bersama beberapa teman yang sudah berkesempatan
untuk berkunjung yang kemudian membuat diri ini tertarik untuk berkunjung
kesana.
Pukul 11.00 pagi, kami berangkat dari kota Mamuju menuju desa Salule’bo’, tempat sekolah alam berada. Setelah melewati perjalanan panjang,
disambut gelap malam dan rintik hujan yang sepanjang perjalanan menemani, serta
jalan terjal dan licin yang menguji adrenalin, akhirnya Pukul 21.00 WITA, suara
keceriaan adik-adik terdengar samar-samar di balik sebuah rumah berdinding
papan, mengartikan bahwa kita telah tiba di tempat tujuan, sebuah rumah
yang kemudian disulap menjadi sesuatu yang melebihi rumah sebagai tempat untuk
berteduh, melainkan tempat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Yah sekolah
Alam. Saya berada disini.
Tentang sekolah alam, di sana ada begitu banyak hal menarik yang
disuguhkan dan saya kemudian seperti penyeduh yang senantiasa berkawan dengan
rasa haus. Tentang metode pembelajaran, cinta dan kasih sayang, kedamaian,
kecerian, kebersamaan, semangat yang menggebuh gebuh, kreatifitas tanpa batas, juga
tentang toleransi. Kawasan tanpa internet membuat saya tentunya lebih banyak
menghabiskan waktu untuk berinteraksi secara langsung dan menikmati kebersamaan
dengan mereka. Maklum, secara pribadi, saya adalah pengguna internet aktif yang
kemudian mencoba keluar dari zona nyaman dengan mengunjungi tempat yang tak
memiliki akses internet. Jangankan untuk mengakses internet, menggunakan
jaringan seluler untuk melakukan panggilan telepon saja sangatlah sulit. Benar,
ini adalah hutan. Mereka harus berpindah dari tempat satu ketempat yang lain
hanya untuk mendapatkan beberapa balok sinyal di layar telpon genggam, yang kemudian
digunakan sebaik mungkin untuk berkabar. Dilain hal, disambut dengan ramah
adalah kemudahan bagi kami untuk berbaur dan melakukan aktivitas bersama-sama. Hubungan
yang kemudian tergambar seolah telah saling mengenal bertahun-tahun karenakan
keakraban yang terbangun berhasil mereka ciptakan dalam kurun waktu yang sangat
singkat.
Sama seperti saya pulang ke rumah, orang pertama yang ingin
kutemui adalah Ibu. Pun ketika tiba di Sekolah Alam, tak berubah sama sekali,
yang paling pertama ingin kutemui adalah sosok Ibu dalam rumah harapan tersebut.
Kunamai rumah harapan sebab ada begitu banyak harapan yang ditancapkan di sana.
Tapi keadaan berkata lain, salah satu volunteer malam itu tiba-tiba pingsang
karena kelelahan. Saya dan beberapa teman perempuan kemudian beralih mengurusi
dan menemani sampai keadaannya mulai membaik. Setelah itu kami diarahkan ke
ruang depan untuk diperkenalkan dengan murid-murid yang ada di Sekolah Alam.
Di sana, tak kutemui ia dalam penyambutan kami. Lelaki yang kukenali lewat
gambarlah yang kemudian menyambut kami dengan penuh suka cita dan mengarahkan
kami untuk segera masuk kerumah. Dia adalah Aco Muliadi. Nama yang paling
sering menjadi buah bibir teman-teman sesaat setelah berkunjung ke sekolah
alam. Lalu Ibu dimana ?
Kami menutup malam yang diisi dengan perkenalan dan diskusi ringan.
keesokan harinya saya terbangun dengan mata
yang separuh terpejam akibat tidur dalam kondisi sangat lelah. Rasa penasaranpun
dengan sigap menyerang, ingin mengetahui akan sosok Ibu di rumah itu. Lalu saya
bergegas dan segera mengamati rangkaian aktivitasnya. Empat hari di sana, kutemukan
ia lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. Bangun lebih awal di pagi hari
telah menjadi kebiasaannya. Menyiapkan segala sesuatu dan memastikan bahwa
semuanya telah sarapan sebelum memulai aktivitas di pagi hari menjadi sebuah
keharusan baginya. Perempuan pemilik wajah bulat dengan kerutan-kerutan yang
jelas terlihat ini sangatlah gesit, memiliki semangat tinggi dan aura keceriaan
senantiasa bersamanya. Ia hadir sebagai Ibu, kakak dan layaknya teman sebaya. Hampir
Setengah abad berada di alam semesta, tak pelak membuatnya kehilangan semangat
untuk tetap melakukan pengkhidmatan atas nama kemanusiaan. Tentang keadilan
yang diterapkan dalam rumah harapan tersebut, ditepiskannya perbedaan perlakuan
antara anak kandung dan anak-anak yang tinggal dan belajar di sana. Semua sama,
hingga akhirnya anak-anakpun merasa nyaman dan aman. Sungguh sebuah pendekatan
yang sangat luar biasa.
Saya percaya, bahwa setiap laki-laki yang sampai pada puncak
kemanusiaan yang tinggi, pastilah berutang budi kepada perempuan yang mendampingnya. Rasa
penasaran saya terhadap sosok perempuan yang mendampingi perjuangan seorang Aco
Muliadi atau yang akrab disapa Uwe’ Aco bukan berkurang setelah melihatya,
malah semakin bertambah. Banyak hal yang kemudian ingin kutanyakan terkait
keputusannya untuk memilih berjuang di hutan belantara. Memilih untuk menjadi Ibu dalam masyarakat. Saya jadi teringat dengan sebuah buku yang beberapa bulan
lalu sempat kubaca. Dalam buku tersebut, mengutip pidato presiden Iran keenam
Ahmadinejad, bahwa mustahil dalam sebuah masyarakat akan terjadi perubahan
sosial bila perempuan tidak dilibatkan. Setiap perubahan sosial membutuhkan
bantuan perempuan. Inilah yang kemudian menghadirkan ide untuk melakukan
wawancara dengan ibu.
Kebebasan
dalam menentukan masa depan sendiri
Pagi itu saya dan ibu sedang berbincang-bincang, tepatnya
wawancara singkat. Tempatnya tentulah di dapur. Meskipun awalnya saya dilarang
berlama-lama di dapur, entah apa alasannya, tapi itulah ibu. Pemilik nama
Rosmal ini menceritakan kisah hidupnya yang dimulai dari ia yang dikenal dalam
keluarga sebagai gadis pemberontak, hingga usahanya dalam berjuang sebagai
pekerja sosial bersama lelaki yang dicintainya di hutan belantara desa
Salule’bo. Mereka memilih menghibahkan dirinya untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa dipelosok negeri, jauh dari karamaian kota adalah pilihan yang harus
mereka buat. Hidup sederhana adalah sebuah kenikmatan baginya. Bukan mereka tak mampu hidup bergelimang harta, tapi mereka
memilih, memilih untuk peduli.
“Kita haruslah merdeka dalam
segala hal, termasuk menentukan jalan hidup” Tegas ibu.
Ibu berasal dari latar belakang keluarga yang berada, tapi
memiliki harta yang banyak justru malah membuat keluarga besarnya enggan untuk
bersekolah. Sebab mereka menganggap, bersekolah itu tujuannya hanya untuk
mencari pekerjaan dan menghasilkan uang. Hal inilah yang kemudian menjadikan
ibu sebagai pemberontak dalam keluarga. Ia menolak pemikiran seperti itu dan
kemudian memilih untuk sekolah meskipun tanpa izin orang tua. Berbagai cara
telah ia lakukan untuk meyakinkan orang tua tentang pentingnya sekolah, melakukan
pembuktian melalui prestasi yang telah ia raih di sekolah dan banyak
pencapaian-pencapaian yang ia peroleh. Tapi, tetap saja hasilnya nihil. Bahkan Orang tua tak kunjung menyetujui
keinginannya untuk bersekolah. Parahnya lagi, sipemberontak ini malah diiming-imingi
hadiah berupa perhiasan, sepeda motor dan perabotan lain jika ia memilih untuk
tidak sekolah.
Perempuan kelahiran palu 1965 ini telah meyakini bahwa dirinya tak
akan tergiur dengan sesuatu yang sifatnya akan menjadi ancaman bagi pilihannya
untuk bersekolah. Ia tetap menolak. Hingga setelah selesai dari Sekolah
Menengah Pertama (SMP), ia kembali ingin melanjutkan studinya. Sekolah Menengah
Pekerja Sosial adalah wadah pilihannya untuk kembali belajar. Tentu bukan hal
mudah untuk memilih disamping tak ada restu dari orang tua. Jarak tempat
tinggalnya dan sekolah sekitar kurang lebih 80 km. Jarak tak menjadi penghalang
baginya, ia tempuh dengan bekal yang seadanya dan belajar mandiri sejak itu.
Hingga akhirnya ia menjadi orang pertama dalam keluarga yang berhasil menyelesaikan
studi sampai tingkat sekolah menengah atas. Waktu sekira empat tahun adalah
tahap lanjutan perjuangan ibu melakukan perlawan. Keinginannya untuk besekolah
harus dibayar dengar tidak patuhnya ia atas keinginan kedua orang tuanya.
Berlatar belakang pendidikan sosial, ibu yang kemudian memilih
jalan menjadi pekerja sosial akhirnya terbentuk dengan karakter yang baik serta
memiliki kepedulian yang sangat tinggi. Baginya persoalan kemanusiaan adalah
tugas kita bersama, sebab manusia tak akan mampu hidup seorang diri. Dunia yang
disenanginya pun kemudian mengantarkan ia bertemu dengan tambatan hatinya. Dia
adalah Aco muliyadi. Sama-sama berjiwa sosial dan berlatar belakang pekerja
sosial akhirnya tak sulit bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain.
Lelaki yang saat ini menjadi ayah dari anak-anaknya merupakan lelaki yang dianggapnya
sebagai sosok yang yang tangguh, bertanggungjawab serta konsisten dalam menjalani
pilihannya. Ia merasakan adanya chemistry
diantara mereka berdua. Dan akhirnya memilih untuk meresmikan hubungannya
pada tahun 1989.
Bukan hanya persoalan pendidikan ibu menjadi pemberontak dalam
keluarga, bahkan tak ada keputusan yang dibuat tanpa persetujuannya. Karena konsistensinya dalam menjalani sebuah pilihan
hidup, orang tuanyapun kemudian memberikan kebebasan untuk memilih jalan hidup,
termasuk memilih pasangan.
Akhir dari perjuangannya sebagai pemberontak dalam keluarga berbuah
positif, kini dalam keluarganya, sekolah tak lagi dipandang sebelah mata,
bahkan sekolah telah dianggap sebagai kebutuhan untuk memperbaiki kualitas
diri. Ibu berhasil membuktikan bahwa harta akan habis pada masanya sedang ilmu
akan abadi sampai akhir hayat. Kini ia
menua, tergambar jelas kekhawatiran di raut wajahnya, Ada kerisauan disetiap
hembusan nafasnya, menginginkan adanya penerus untuk perjuangan yang telah ia
rintis sejak dulu bersama suami adalah harapan terbesarnya. Lalu apakah kita siap untuk melanjutkan
perjuangannya?
........................................................................................................................................................
“Perempuan
memiliki kekuatan yang luar biasa, yaitu kekuatan cinta dan kasih sayang, dan
inilah sebabnya Allah memercayakan begitu banyak amanah dipundak para perempuan
untuk turut serta berperan dalam mengelolah dunia.”
– Ahmadinejad





