Desember memang berhasil menarik perhatian. Selalu menyisakan rindu untuk menantinya kembali dipenghujung tahun. Kalau ditanya apa yang paling kamu nantikan di Bulan Desember, Jawabanku tentulah Hujan. Dulu sewaktu aku masih kecil, Hujan di bulan desember telah menjadi sesuatu yang dinanti dalam keluarga kami. Saat aku bertanya pada Ibu mengapa ia menanti Hujan di bulan desember, beliau hanya menjawab seadanya, katanya Hujan ini adalah Hujan Pembersihan. Apa yang harus dibersihkan? Tanyaku lagi. Yang dibersihkan adalah segala hal yang terjadi selama hampir satu tahun, biar nanti ketika kita memasuki Tahun Baru semuanya kembali bersih, mulai lingkungan sampai harapan-harapan kita. Jawabnya.
Aku terdiam. Bukan mengerti, tapi malah bingung. Bahkan sempat mengharapkan banjir besar segera datang saat itu, karena pikirku Banjir akan menghasilkan banyak air dan tentu akan lebih bersih pula. Maklum, intensitas hujan di bulan Desember memang agak tinggi dari bulan-bulan lain. Tapi itu dulu. Masa kanak-kanak.
"Lalu, masihkah menyukai Hujan di Bulan Desember?"
Hujan, betapapun ia banyak menuai cacian saat orang-orang telah menganggapnya sebagai penghalang, juga tak sedikit dari populasi manusia yang mengingkan kehadirannya. Termasuk Aku. Bagiku Hujan adalah sesuatu yang indah, hadir sebagai peneduh di jagat raya, memberikan kehidupan, menyuburkan tanaman, memberikan sensasi kesejukan bagi penikmatnya dan masih banyak lagi. Namun menjadi Indah tak menyoal semua orang akan suka, tak membahas hanya sebatas komentar positif. Toh, pada kenyataanya Banyak yang tidak suka dan banyak pula yang berakhir pada makian kepadanya.
Pun desember, selalu menghadirkan banyak hal yang sifatnya kadang-kadang tak bisa ditebak. Tentang keluarga, teman, sahabat, orang-orang disekitar kita, alam, dan semua yang ikut nimbrung di muka bumi ini. Desember adalah bulan terakhir dalam penanggalan Masehi yang kemudian menjadikan ia sebagai moment yang pas untuk mengakumulasi semua peristiwa yang ada.
Kota Mamuju, 18 Desember 2017.
Sejak kemarin Kotaku dilanda hujan, sampai pagi ini hingga aku kembali untuk sekedar mengalihkan isi kepala menjadi sebuah tulisan, masih ditemani dengan hujan. Kotaku telah dilanda Hujan hampir 12 jam. Ajaibnya saat ini tak ada tanda-tanda banjir. Kebiasaanku saat hujan turun dengan intensitas tinggi, khususnya dikotaku, adalah menunggu situs-situs pemberitaan online untuk menginformasikan titik-titik banjir, mulai dari yang sedang hingga yang parah. Tapi sebuah kesyukuran, karena sampai pada saat tulisan ini dibuat, belum ada satupun berita yang memuat tentang banjir. Kuanggap ini sebuah kemajuan daerah dan berharap kedepannya lebih baik lagi, kepedulian masyarakat tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya semoga bisa membatu untuk mengurangi potensi-potensi bencana di daerah kita tercinta, di tanah kelahiran kita.
_______________________________________________________

Tidak ada komentar:
Posting Komentar