Belum cukupkah kau memahami jarak yang begitu menghantui kita?
Masihkah kau ingin ciptakan spasi demi spasi untuk menghancurkan kita?
Kau melakukan segalanya dengan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi padaku. Hingga kaupun lupa bahwa setiap manusia akan menemui titik jenuh dalam hidupnya.
Yah, aku berhenti, memilih untuk menjalani hidupku tanpamu. menikmati mentari pagi tanpa sinar bayangmu. Menanti senja tanpa kilas senyummu dan menjemput malam tanpa harapan-harapan yang dulu pernah kita buat bersama.
Tidak butuh waktu lama untuk berpindah.
Aku mulai terbiasa. Dulu kupikir aku tak akan bisa sejauh ini, tapi keadaan berkata lain. Pintu harapan seakan terbuka lebar dan menarikku kembali membuat harapan-harapan baru.
Denganmu? Tentu bukan.
Tapi tenang, Aku takkan pernah marah padamu, menyalahkan keadaan apalagi menyalahkan diriku sendiri. Sebab, itu hanya akan terlihat seperti alasan atas sakit yang kuderita. Dan aku tidak ingin terlihat sebegitu menyedihkan.
Tak ada lagi penyesalan, aku telah melakukannya sebaik dan semampuku.
Mungkin kita hanya perlu meyakini, bahwa tidak semua hal akan terjadi sesuai keinginan kita, termasuk keinginan kita dulu untuk bersama yang pada kenyataaannya saat ini kita telah memilih untuk jalan masing-masing.
Aku yang saat ini baik-baik saja menginkan kau disana dalam keadaan yang sama. Aku yang tak lagi menikmati hujan bersamamu juga telah menemukan cara menikmati yang tak kalah menyenangkan.
Maka berbahagialah. Sebab, selanjutnya kita hanya akan menyusuri kenangan indah waktu itu. Dan jika ingin menangis, maka menangislah ketika sampai pada episode kita yang akhirnya tak bisa bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar