Minggu, 31 Desember 2017

Rosmal: Sosok Ibu Peradaban di Sekolah Alam


Sekolah Alam Memanggil..

Ini kali kedua saya merencanakan untuk berkunjung ke Sekolah Alam di Desa Salule’bo, Mamuju Tengah. Rencana pertama gagal dikarenakan beberapa hal, dan alhamdulillah, pada rencana kedua segala kemudahan menyertai. Sungguh sebuah karunia ketika akhirnya saya berkesempatan menjejakkan kaki di salah satu sudut bumi Tuhan, di Bumi LallaTassisara bersama teman-teman yang mengatas namakan dirinya “Relawan Peduli Sekolah Alam”. Sekolah alam, sekolah kolong tanpa seragam. Tak banyak yang kuketahui kecuali sedikit gambaran tentang kegiatan pembelajaran adik-adik yang ada di sana, baik melalui gambar maupun video yang dishare teman-teman volunteer melalui dunia maya, ditambah lagi dengan hasil bincang-bincang bersama beberapa teman yang sudah berkesempatan untuk berkunjung yang kemudian membuat diri ini tertarik untuk berkunjung kesana.

Pukul 11.00 pagi, kami berangkat dari kota Mamuju menuju desa Salule’bo’, tempat sekolah alam berada. Setelah melewati perjalanan panjang, disambut gelap malam dan rintik hujan yang sepanjang perjalanan menemani, serta jalan terjal dan licin yang menguji adrenalin, akhirnya Pukul 21.00 WITA, suara keceriaan adik-adik terdengar samar-samar di balik sebuah rumah berdinding papan, mengartikan bahwa kita telah tiba di tempat tujuan, sebuah rumah yang kemudian disulap menjadi sesuatu yang melebihi rumah sebagai tempat untuk berteduh, melainkan tempat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Yah sekolah Alam. Saya berada disini.

Tentang sekolah alam, di sana ada begitu banyak hal menarik yang disuguhkan dan saya kemudian seperti penyeduh yang senantiasa berkawan dengan rasa haus. Tentang metode pembelajaran, cinta dan kasih sayang, kedamaian, kecerian, kebersamaan, semangat yang menggebuh gebuh, kreatifitas tanpa batas, juga tentang toleransi. Kawasan tanpa internet membuat saya tentunya lebih banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi secara langsung dan menikmati kebersamaan dengan mereka. Maklum, secara pribadi, saya adalah pengguna internet aktif yang kemudian mencoba keluar dari zona nyaman dengan mengunjungi tempat yang tak memiliki akses internet. Jangankan untuk mengakses internet, menggunakan jaringan seluler untuk melakukan panggilan telepon saja sangatlah sulit. Benar, ini adalah hutan. Mereka harus berpindah dari tempat satu ketempat yang lain hanya untuk mendapatkan beberapa balok sinyal di layar telpon genggam, yang kemudian digunakan sebaik mungkin untuk berkabar. Dilain hal, disambut dengan ramah adalah kemudahan bagi kami untuk berbaur dan melakukan aktivitas bersama-sama. Hubungan yang kemudian tergambar seolah telah saling mengenal bertahun-tahun karenakan keakraban yang terbangun berhasil mereka ciptakan dalam kurun waktu yang sangat singkat.

Sama seperti saya pulang ke rumah, orang pertama yang ingin kutemui adalah Ibu. Pun ketika tiba di Sekolah Alam, tak berubah sama sekali, yang paling pertama ingin kutemui adalah sosok Ibu dalam rumah harapan tersebut. Kunamai rumah harapan sebab ada begitu banyak harapan yang ditancapkan di sana. Tapi keadaan berkata lain, salah satu volunteer malam itu tiba-tiba pingsang karena kelelahan. Saya dan beberapa teman perempuan kemudian beralih mengurusi dan menemani sampai keadaannya mulai membaik. Setelah itu kami diarahkan ke ruang depan untuk diperkenalkan dengan murid-murid yang ada di Sekolah Alam. Di sana, tak kutemui ia dalam penyambutan kami. Lelaki yang kukenali lewat gambarlah yang kemudian menyambut kami dengan penuh suka cita dan mengarahkan kami untuk segera masuk kerumah. Dia adalah Aco Muliadi. Nama yang paling sering menjadi buah bibir teman-teman sesaat setelah berkunjung ke sekolah alam. Lalu Ibu dimana ?

Kami menutup malam yang diisi dengan perkenalan dan diskusi ringan. keesokan  harinya saya terbangun dengan mata yang separuh terpejam akibat tidur dalam kondisi sangat lelah. Rasa penasaranpun dengan sigap menyerang, ingin mengetahui akan sosok Ibu di rumah itu. Lalu saya bergegas dan segera mengamati rangkaian aktivitasnya. Empat hari di sana, kutemukan ia lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. Bangun lebih awal di pagi hari telah menjadi kebiasaannya. Menyiapkan segala sesuatu dan memastikan bahwa semuanya telah sarapan sebelum memulai aktivitas di pagi hari menjadi sebuah keharusan baginya. Perempuan pemilik wajah bulat dengan kerutan-kerutan yang jelas terlihat ini sangatlah gesit, memiliki semangat tinggi dan aura keceriaan senantiasa bersamanya. Ia hadir sebagai Ibu, kakak dan layaknya teman sebaya. Hampir Setengah abad berada di alam semesta, tak pelak membuatnya kehilangan semangat untuk tetap melakukan pengkhidmatan atas nama kemanusiaan. Tentang keadilan yang diterapkan dalam rumah harapan tersebut, ditepiskannya perbedaan perlakuan antara anak kandung dan anak-anak yang tinggal dan belajar di sana. Semua sama, hingga akhirnya anak-anakpun merasa nyaman dan aman. Sungguh sebuah pendekatan yang sangat luar biasa.

Saya percaya, bahwa setiap laki-laki yang sampai pada puncak kemanusiaan yang tinggi, pastilah berutang budi kepada perempuan yang mendampingnya. Rasa penasaran saya terhadap sosok perempuan yang mendampingi perjuangan seorang Aco Muliadi atau yang akrab disapa Uwe’ Aco bukan berkurang setelah melihatya, malah semakin bertambah. Banyak hal yang kemudian ingin kutanyakan terkait keputusannya untuk memilih berjuang di hutan belantara. Memilih untuk menjadi Ibu dalam masyarakat. Saya jadi teringat dengan sebuah buku yang beberapa bulan lalu sempat kubaca. Dalam buku tersebut, mengutip pidato presiden Iran keenam Ahmadinejad, bahwa mustahil dalam sebuah masyarakat akan terjadi perubahan sosial bila perempuan tidak dilibatkan. Setiap perubahan sosial membutuhkan bantuan perempuan. Inilah yang kemudian menghadirkan ide untuk melakukan wawancara dengan ibu.

Kebebasan dalam menentukan masa depan sendiri

Pagi itu saya dan ibu sedang berbincang-bincang, tepatnya wawancara singkat. Tempatnya tentulah di dapur. Meskipun awalnya saya dilarang berlama-lama di dapur, entah apa alasannya, tapi itulah ibu. Pemilik nama Rosmal ini menceritakan kisah hidupnya yang dimulai dari ia yang dikenal dalam keluarga sebagai gadis pemberontak, hingga usahanya dalam berjuang sebagai pekerja sosial bersama lelaki yang dicintainya di hutan belantara desa Salule’bo. Mereka memilih menghibahkan dirinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dipelosok negeri, jauh dari karamaian kota adalah pilihan yang harus mereka buat. Hidup sederhana adalah sebuah kenikmatan baginya. Bukan mereka tak mampu hidup bergelimang harta, tapi mereka memilih, memilih untuk peduli.

“Kita haruslah merdeka dalam segala hal, termasuk menentukan jalan hidup” Tegas ibu.

Ibu berasal dari latar belakang keluarga yang berada, tapi memiliki harta yang banyak justru malah membuat keluarga besarnya enggan untuk bersekolah. Sebab mereka menganggap, bersekolah itu tujuannya hanya untuk mencari pekerjaan dan menghasilkan uang. Hal inilah yang kemudian menjadikan ibu sebagai pemberontak dalam keluarga. Ia menolak pemikiran seperti itu dan kemudian memilih untuk sekolah meskipun tanpa izin orang tua. Berbagai cara telah ia lakukan untuk meyakinkan orang tua tentang pentingnya sekolah, melakukan pembuktian melalui prestasi yang telah ia raih di sekolah dan banyak pencapaian-pencapaian yang ia peroleh. Tapi, tetap saja hasilnya nihil.  Bahkan Orang tua tak kunjung menyetujui keinginannya untuk bersekolah. Parahnya lagi, sipemberontak ini malah diiming-imingi hadiah berupa perhiasan, sepeda motor dan perabotan lain jika ia memilih untuk tidak sekolah.  

Perempuan kelahiran palu 1965 ini telah meyakini bahwa dirinya tak akan tergiur dengan sesuatu yang sifatnya akan menjadi ancaman bagi pilihannya untuk bersekolah. Ia tetap menolak. Hingga setelah selesai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia kembali ingin melanjutkan studinya. Sekolah Menengah Pekerja Sosial adalah wadah pilihannya untuk kembali belajar. Tentu bukan hal mudah untuk memilih disamping tak ada restu dari orang tua. Jarak tempat tinggalnya dan sekolah sekitar kurang lebih 80 km. Jarak tak menjadi penghalang baginya, ia tempuh dengan bekal yang seadanya dan belajar mandiri sejak itu. Hingga akhirnya ia menjadi orang pertama dalam keluarga yang berhasil menyelesaikan studi sampai tingkat sekolah menengah atas. Waktu sekira empat tahun adalah tahap lanjutan perjuangan ibu melakukan perlawan. Keinginannya untuk besekolah harus dibayar dengar tidak patuhnya ia atas keinginan kedua orang tuanya.

Berlatar belakang pendidikan sosial, ibu yang kemudian memilih jalan menjadi pekerja sosial akhirnya terbentuk dengan karakter yang baik serta memiliki kepedulian yang sangat tinggi. Baginya persoalan kemanusiaan adalah tugas kita bersama, sebab manusia tak akan mampu hidup seorang diri. Dunia yang disenanginya pun kemudian mengantarkan ia bertemu dengan tambatan hatinya. Dia adalah Aco muliyadi. Sama-sama berjiwa sosial dan berlatar belakang pekerja sosial akhirnya tak sulit bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain. Lelaki yang saat ini menjadi ayah dari anak-anaknya merupakan lelaki yang dianggapnya sebagai sosok yang yang tangguh, bertanggungjawab serta konsisten dalam menjalani pilihannya. Ia merasakan adanya chemistry diantara mereka berdua. Dan akhirnya memilih untuk meresmikan hubungannya pada tahun 1989.

Bukan hanya persoalan pendidikan ibu menjadi pemberontak dalam keluarga, bahkan tak ada keputusan yang dibuat tanpa persetujuannya.  Karena konsistensinya dalam menjalani sebuah pilihan hidup, orang tuanyapun kemudian memberikan kebebasan untuk memilih jalan hidup, termasuk memilih pasangan.

Akhir dari perjuangannya sebagai pemberontak dalam keluarga berbuah positif, kini dalam keluarganya, sekolah tak lagi dipandang sebelah mata, bahkan sekolah telah dianggap sebagai kebutuhan untuk memperbaiki kualitas diri. Ibu berhasil membuktikan bahwa harta akan habis pada masanya sedang ilmu akan abadi sampai akhir hayat.  Kini ia menua, tergambar jelas kekhawatiran di raut wajahnya, Ada kerisauan disetiap hembusan nafasnya, menginginkan adanya penerus untuk perjuangan yang telah ia rintis sejak dulu bersama suami adalah harapan terbesarnya.  Lalu apakah kita siap untuk melanjutkan perjuangannya?
........................................................................................................................................................
    “Perempuan memiliki kekuatan yang luar biasa, yaitu kekuatan cinta dan kasih sayang, dan inilah sebabnya Allah memercayakan begitu banyak amanah dipundak para perempuan untuk turut serta berperan dalam mengelolah dunia.”
 – Ahmadinejad




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sajak Patah Hati

Untuk seseorang yang benar-benar kurindukan malam ini, semoga kabarmu baik di sana. malam ini aku tak kuasa menahan malu kepada lan...