Entah apa yang ada dalam fikiran teman-teman Wartawan. Baru-baru ini, telah massif beredar foto sejumlah wartawan yang sedang melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Bank Indonesia (BI) Sulbar dengan menggunakan alat peraga “pakaian dalam perempuan” , tepatnya pada tanggal 2 mei 2018. Dari masalembo.com menjelaskan ini merupakan buntut dari pernyataan Kepala Bank Indonesia (BI) Sulbar di sebuah grup whatsapp tentang beberapa media online yang kerap melakukan Copy Paste dalam pembuatan berita yang kemudian teman-teman jurnalis menilai pernyataan tersebut melecehkan profesi wartawan.
Akhirnya
saya mengambil kesimpulan, bahwa aksi ini adalah bentuk protes teman-teman
wartawan kepada Kepala BI atas subjektifitasnya memberikan statement yang melukai hati. Sejauh ini tentu saya akan mendukung,
saya juga cukup lama bekerja di salah satu media elektronik dan banyak
berinterkasi dengan para wartawan. Perlu diketahui, menjalani profesi sebagai
wartawan itu tidaklah mudah, senantiasa menyajikan informasi kepada masyarakat,
sebisa mungkin menyediakan berita terkini yang kita juga tahu minat baca di
Indonesia khususnya di Mamuju sangatlah kurang, terik sinar matahari dan hujan
menjadi teman menuju TKP, menemui narasumber telah menjadi rutinitas mereka. Demi apa? Demi untuk menjadi pewarta yang
profesional di bidangnya. Tapi setelah itu di judge seenak udelnya yah tentu mereka akan teriak.
Saya juga tidak lantas menyalahkan Kepala BI atas pernyataannya, sebab, bisa saja beliau memang
menemukan oknum wartawan yang seperti itu. Tapi dengan menuduh tanpa mememberikan klarifikasi yang jelas tentu akan berimbas pada integritas teman-teman wartawan itu
sendiri dan tentulah ini sebuah kekeliruan.
Lalu
ada apa dengan “Pakaian dalam perempuan”?
Kemarahan
atas pelecehan kepada teman-teman wartawan berujung pada pelecehan mereka kepada
kaum perempuan. Bagiku, itu sama saja dengan melawan kesalahan dengan kesalahan pula. Saya tidak pernah sedikitpun mempersoalkan muatan aksi teman-teman, yang
kutahu, ini dilakukan atas berbagai pertimbangan yang kemudian disepakati. Tapi
pertimbangan seperti apa yang membenarkan “Pakaian dalam perempuan” menjadi
alat peraga aksi? belum lagi isu yang
dibawa sangat tidak ada kaitannya terhadap permasalahan perempuan.
Sampai
saat permintaan maaf telah diberikan secara tidak langsung melalui media sosial,
saya pun masih merasa geram. Koordinator Aksi dengan disertai klarifikasi telah
meminta maaf kepada semua kaum perempuan kalau merasa tersakiti, itupun kalau
merasa, kalau tidak yah sudah diamkan. Beberapa teman-teman wartawan yang tergabung
dalam aksi tersebut malah menganggap bahwa meminta maaf bukanlah hal yang perlu
dilakukan, bahkan ada yang mengatakan bahwa atas dasar apa perempuan harus
marah? Dan juga yang paling menohok perhatian, katanya, itu digunakan sebagai
simbol “Tak Beraninya orang mengakui kesalahannya". Woi, hubungannya di mana?
Segitu hinanyakah pakaian kami?
Respect seketika hilang, yang muncul
hanya satu kesimpulan bahwa ini adalah pelecehan. Teman-teman wartawan tak
semestinya menggunakan “Pakaian Dalam Perempuan” sebagai alat peraga dalam aksi
demonstrasi, atas alasan apapun itu tidaklah bisa untuk dibenarkan. Menyampaikan
aspirasi maupun kritikan semestinya dengan cara-cara cerdas, bukan malah
menanggalkan sebuah kebenaran, bahwa sesuatu yang kalian gunakan sebagai simbol
perlawanan tidak selayaknya menjadi konsumsi publik. Kalian perlu mengetahui
bahwa sesuatu yang kalian anggap remeh itu adalah kebutuhan bagi kami
(baca;Perempuan). Sesuatu yang kamipun akan merasa malu ketika dilihat oleh
orang lain secara sengaja dan terus menerus, bahkan kami akan berusaha untuk
menaruhnya di tempat yang sebisa mungkin tidak menjadi hal yang mudah
terdeteksi oleh sepasang mata dan pemikiran mesum di dalam kepala.
Ini
juga sebagai isyarat kemunduran. Usaha untuk menghalau segala bentuk
eksploitasi, diskriminasi dan segala stigma negatif terhadap perempuan seketika
kutemui tak berjalan beriringan dengan isi kepala sebagian lelaki. Sangat
memprihatinkan, mengapa hal seperti ini bisa terjadi di tanah Malaqbi’ yang
menjunjung tinggi nilai-nilai luhur sebagai masyarakat yang mulia, terhormat,
dan bermartabat ? ahh.. lagi-lagi kegeraman memenuhiku.
Sejauh
ini, persoalan tersebut masih seperti angin lewat, hanya sebagaian kecil media
online yang memuat berita atas pengecaman kaum perempuan terhadap kelakuan
teman-teman wartawan yang menjadikan “pakaian dalam perempuan” sebagai simbol
perlawanan dalam aksi demonstrasi menuntut pencopotan Kepala Bank Indonesia
(BI) Sulbar. Loh kok bisa? Yah bisalah, wong yang menjadi tuan atas ada/tidaknya
pemberitaan kan teman-teman jurnalis, yang senantiasa mengedukasi masyarakat
dengan penyajian berita dan informasi yang penting. Jadi gimana? Yah kesimpulan
sementara yang bisa kita ambil bahwa teman-teman wartawan memang tidak
mengindahkan itu. Merasa bahwa apa yang dilakukannya bukanlah sesuatu
yang harus membuat kalangan tertentu dalam hal ini perempuan untuk tersinggung,
meski pada akhirnya mereka pun tahu bahwa kami kaum perempuan merasa
tersinggung atas kelakuan tidak etis tersebut.
Setelah
tahu lalu apa? Jawabannya singkat, LALU NYINYIR dan melakuan pembenaran sana
sini, ditegaskan pula dalam komentar di salah satu status facebook teman perempuan yang juga merasa dilecehkan atas perbuatan
teman-teman wartawan, katanya, kenapa kalian harus marah ketika kami
menggunakan itu sebagai simbol? Toh, isinya juga diperjual belikan kalian tidak
protes. What? Diperjual belikan? Dan kamu menganggap itu biasa saja? Kamu ini
apa? Wartawan atau? Ahh sudahlah, saya cukup tahu isi kepalamu yang tidak
beres. Saya hanya berharap pemikiranmu tidak berlaku secara universal kepada
perempuan, kasian perempuan yang telah susah payah melahirkan dan membesarkanmu,
kakak dan adik perempuanmu, serta teman-teman perempuanmu. Kamu secara tidak
langsung menanggalkan label keindahan dan menjatuhkan kehormatan dalam diri
perempuan dengan nyinyiran perempuan sebagai pelampiasan hawa nafsu para lelaki
bejat yang diakhiri dengan lembaran rupiah.
Terakhir,
sampai kapanpun perempuan akan tetap menjadi second people, sumber pelecehan, objek diskriminasi dan intimidasi
jika yang tertanam dalam pikiran adalah konotasi negatif tentang perempuan.
Upaya untuk menyelaraskan opini publik bahwa sejatinya laki-laki dan perempuan
adalah manusia yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara
dan sebagai hamba Tuhan di atas derasnya pengaruh kultural suatu daerah
merupakan kesiasiaan ketika cara berfikir tak bermuara pada rasionalitas setiap
insan. Ini era modern, era millenial, era di mana persoalan gender dan sex
bukan lagi hal yang perlu diperdebatkan. Semua tahu, konsekuensi dari jenis
kelamin biologis dan jenis kelamin sosial adalah perbedaan peran. Yang perlu
kita lakukan adalah tidak melampaui hal-hal yang memang sifatya kodrati dan hal-hal
yang sifatnya bisa untuk dipertukarkan.
Atas
nama cinta dan kasih sayang, teruntuk saudaraku, kakak-kakakku, yang tergabung
dalam profesi wartawan, ucapan maafmu mungkin akan meredakan kegeraman yang
kami alami, tapi ingat, sejarah telah mencatat kejadian tersebut. Harapanku,
Semoga hal seperti ini tidak terulang kembali dan semua kita kembali
mengintrospeksi diri atas segala tindakan yang telah diperbuat baik secara
sadar maupun tidak sadar telah melukai orang-orang yang ada di sekitar kita.
Manusia tempatnya khilaf dan dosa, untuk itu saya juga memohon maaf jika dalam
tulisan inipun terdapat kalimat yang tanpa sepengetahuan saya akan menyinggung
teman-teman.
#SalamCare
Sipakatau' Sipakala'bi'
Luar biasa, Nanna! 🙂
BalasHapusheheh. terima kasih Ustad, semoga bermanfaat
Hapuskeren juga. saya tunggu komentar dan kunjungan di blog saya gaes. https://strukturmesin.blogspot.co.id/
BalasHapus
BalasHapusHallo.. Semua Pecinta Domino99 Online
Capek, DEPOSIT Teruss..Tapi Tidak Pernah Witdraw ?
Coba Bermain Di website SAHABATKARTU
DAFTAR > DEPOSIT > MAIN > WITHDRAW
Kesempatan Anda Untuk Menang Berkali - Kali Di Sini !
klik link : Sahabatkartu*biz
W.A : +85581734028
PIN BB : 2BCDBEE2