Senin, 30 April 2018

Penghujung April Di Tanah mandar


Kali ini, aku dan dua orang temanku (Nummi, Misba) melakukan perjalanan ke Kabupaten Majene  dan Polewali Mandar, dua Kabupaten di Sulawesi Barat yang berada di bagian selatan dari Kota kami (baca;Kabupaten Mamuju). Tak ada misi khusus, hanya ingin mengunjungi beberapa tempat yang ada di sana dan sekaligus liburan. hehe

(1)    Dari Mamuju Menuju Majene
Pukul 10.00. Kami melakukan perjalanan dari Mamuju menuju Majene menggunakan roda dua dengan jarak tempuh sekitar 3 jam dengan kondisi jalan berkelok-kelok dan beberapa jalan yang rusak di sana-sini. Sepanjang perjalanan, di bawah terik matahari, kami menikmati suguhan pemandangan pantai dan gunung yang cukup menyejukkan mata.

Gerbang Wisata Kuliner Somba

Pukul 12.30. Terpampang dengan jelas tulisan “Selamat Datang Kawasan Wisata Kuliner Mosso”, tepatnya di Somba, Kecamatan Sendana. Tempat yang dikenal dengan kuliner pengasapan ikan terbang (TUIng-Tuing) ini menjadi pilihan kami untuk beristirahat segaligus makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Majene. Di sana berbagai menu andalan telah tersedia, seperti ikan tuing-tuing yang telah diasap, jepa, cumi-cumi, dan waktu itu aku memilih untuk menyantap ikan asap dan jepa sedang temanku memilih cumi-cumi dicampur nasi putih, sesekali ia juga mencoba makanan pilihanku. Setelah kurang lebih 1 jam makan dan istirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Ikan Tuing-Tuing dan Jepa.

(2)    Kota Majene
Pukul 14.00. Selamat datang di Bumi Assamalewuang Kota Majene. Kata Majene berarti Manje’ne’ (Berwudhu) atau bisa juga diartikan sebagai air yang disucikan. Konon, Majene merupakan sifat yang melekat pada jiwa masyarakat dari dulu hingga saat ini. Majene juga dikenal sebagai Dinasti Kota Pendidikan di Provinsi Sulawesi Barat, di sana ada Universitas Sulawesi Barat (UNSULBAR) , Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) dan beberapa kampus-kampus swasta lainnya.

Di depan Kost teman-teman PERMATA

Setelah tiba di Kota Majene, kami memilih beristirahat di rumah kost salah satu teman mahasiswa Unsulbar yang berasal dari Tapalang di Jl. Hertasning Lembang Majene. Di sana, Kami memilih untuk langsung meluruskan badan yang terasa sakit sesaat setelah melakukan perjalanan dari Kota Mamuju.

Pukul 17.00. Setelah beristirahat, kami bersiap siap menuju Buttu Baruga, detail lokasinya saya pun masih bingung. Maklum orang baru. Yang pasti untuk sampai di sana kita membutuhkan waktu kisaran 45 menit dengan kondisi jalan yang cukup menantang. Kenapa memilih tempat itu? Hmmm, jawabannya sederhana, karena kebetulan ada teman yang melaksanakan kegiatan orgaisasinya disana. Kami tak tahu rupa dari Buttu Baruga tersebut, yang kami bisa bayangkan adalah Buttu (baca; Gunung) dengan keindahan khasnya.

View Buttu Baruga
Tapi beruntungnya kami, Buttu Baruga menyuguhnya pemandangan yang sangat luar biasa,  dikelilingi bukit yang hijau, berbagai tanaman masyarakat dan tanaman yang paling mendominasi adalah  bawang.

Tanaman Bawang di Buttu Baruga

Pukul 19.00. Suhu semakin dingin, embun mulai berdatangan. Sialnya, kami tak menggunakan jaket. Hal terakhir yang bisa kami lakukan adalah menikmati dinginnya. Awalnya tak ada niatan untuk menginap di sana, itulah mengapa kami tak mempersiapkan diri dengan kondisi di sana termasuk membawa jaket.  Tapi karena akses jalan yang cukup jauh dan harus melewati beberapa tempat yang sunyi, gelap dan banyak anjing, kami memilih untuk menginap. Malam kami ditutup dengan berdiskusi bersama teman-teman di bawah sinar sang rembulan yang dihiasi dengan banyak bintang. Sungguh malam yang asik bersama orang-orang dengan berbagai pemikiran yang luar biasa.

Suasana Pagi Di Buttu Baruga

Pukul 06.00. Selamat Pagi Buttu Baruga. Selamat Pagi pemandangan yang begitu cantik, Selamat Pagi teman-teman yang menikmati malam panjang dengan suhu dingin yang sedikit mencekam dan terima kasih untuk jamuan Kopi dan makan malamnya. Kami akhirnya kembali dan mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan.

(3) Nusa Pustaka Museum and Library Pambusuang.
Pukul 09.00. Kami yang sebelumnya berjumlah 3 orang bertambah menjadi 6 orang melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Polewali Mandar (POLMAN) untuk Mengunjungi Nusa Pustaka yang ada di Pambusuang. Sepanjang perjalanan sangat banyak hal-hal menarik yang bisa kita nikmati, mulai dari patung-patung pahlawan hingga hal-hal yang sangat jarang untuk bisa kita ketui, sebut saja Bendi (baca; delman), merupakan alat transportasi yang kalau di kotaku (baca; Mamuju) sudah tidak ada lagi. Akhirnya, dengan bermodalkan Google Maps kamipun tiba di Nusa Pustaka Museum and Library di Pambusuang, Balanipa, Kapubaten Polewali Mandar. Salah satu tempat yang sejak dulu ingin aku kunjungi.

Bagian depan Nusa Pustaka
Nusa Pustaka adalah perpustakaan milik Muhammad Ridwan Alimuddin yang diresmikan pada Maret 2016 lalu. Setelah mengenalkan Armada Pustaka yang terdiri dari Perahu Pustaka, Bendi Pustaka, Motor Pustaka dan Becak Pustaka tahun 2015 beliau kembali meluncurkan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai museum bahari Mandar. Ini kali kedua aku bertemu dengan beliau, keramahannya masih sama, kamipun tak segan untuk menanyakan berbagai hal bahkan berfoto selfie dengannya. Senang bisa bertemu dan berdiskusi dengan seorang pejuang Literasi yang sudah Go International memperkenalkan budaya Mandar.

Bincang-bincang bersama Bang Ridwan

Setelah berbincang-bincang dan melihat-lihat di setiap sudut Nusa Pustaka, kami berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Hari itu beliau juga sedang disibukkan dengan aktivitas mengecat perahu dan mempersiapkan perlengkapan untuk menghadiri kegiatan yang ada di Kota Makassar.

(4)    Campalagian Polewali Mandar
Pukul 12.00. Tiba di rumah teman di Campalagian. Campalagian atau dikenal juga dengan nama Tomadio, merupakan salah satu Kecamatan di Polewali Mandar. Setelah tiba, Kami langsung menyantap makan siang dan kemudian beristitahat. Suhu udara siang itu begitu panas, tapi rasa lelah dan kantuk mengalahkan semuanya. Kami tertidur hingga sore hari.

Makan siang Mie Titi ala orang Campa

Pukul 16.00. Kami kembali bersiap-siap. Kali ini menuju salah satu tempat wisata yang ada di Polman. Setelah beberapa pilihan ditawarkan kepada kami, akhirnya wisata Pohon Pinus menjadi pilihan. Kalau tadi jumlah kami 6 orang, sekarang kembali 3 orang saja, 3 orang lainnya kembali ke Buttu Baruga tempat kegiatan teman-teman dilaksanakan.

Yang ganjil selalu ingin tergenapi, hehhee. Ditambah 1 teman lagi yang juga sebagai penunjuk jalan menuju lokasi pohon pinus. Menempuh perjalan sekitar 1 jam lebih dengan kondisi jalan yang ibarat kata “perempuan yang sedang hamil dilarang menggunakan jalan tersebut”, kenapa? Karena keselamatan janin akan terancam, tapi karena kami bertiga masih gadis (Belum Nikah), yah amanlah. Meskipun cukup melelahkan. 1 hal yang penting jangan lupa doakan kami yah, semoga jodohnya dimudahkan. Ehh

(5)    Hutan Pohon Pinus Tapango, Polewali Mandar
Pukul 17.30. Pohon Pinus memang memiliki keunikannya sendiri. Selain memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia, tanah yang ditumbuhi pohon pinus kebanyakan dijadikan lokasi wisata. Wajar, sebab tawaran keindahan serta kesejukannya mampu menghipnotis bagi sesiapa saja yang melihatnya.

Hutan Pohon Pinus Tapango

Di Kabupaten Polman tepatnya di Desa Batu, Kecamatan Tapango juga terdapat Hutan Pohon Pinus. Kawasan hutan lindung ini tergolong kawasan yang masih alami. Beberapa alat-alat outbound sudah mulai ada namun belum bisa digunakan untuk umum. Meski terbilang baru, tempat ini sudah ramai dikunjungi. Kebanyakan pengunjung adalah anak-anak muda, yang sekedar datang untuk selfie  dan nongkrong bersama teman-temannya. Untuk kebersihan, di sana pengunjung masih minim kesadaran, kita dengan sangat mudah menemui sampah plastik bekas minuman dan makanan ringan.

Setelah puas menikmati keindahan Hutan Pohon Pinus Tapango, kami akhirnya bergeser menuju Kota Polewali.

(6)    Anjungan Pantai Bahari Polewali Mandar
Pukul 20.00. kok rame yah? Kan malam minggu, jawab salah satu teman. Di manapun, malam minggu memang identik dengan keramaian. Katanya malam panjang, malam asyik buat ngumpul bareng teman maupun keluarga, baik di rumah maupun di luar rumah.

Sebelum menuju pantai bahari, setelah balik dari Lokasi Hutan Pohon Pinus, kami mampir di sekretariat teman-teman Himagri di Manding. Dengan mereka, beberapa jam bertemu sudah seperti orang yang bertahun-tahun kenal. Mereka memiliki kepribadian yang baik, ramah, menyenangkan dan nilai persaudaraan yang tinggi. Kesan yang baik di awal peretemuan, semoga bisa kembali bersua dengan suasana kekeluargaan yang sama.

Ini kali kedua aku berkunjung ke pantai Bahari Polewali, dengan suasana yang berbeda tentunya. Pertama aku datang saat senja hadir dengan begitu cantik, kedua, tepat di malam minggu, kami ditemani sang rembulan, dengar cahayanya yang seolah memberi isyarat kebahagiaan. Jus Alpukat dan Buah Naga juga tak ketinggalan untuk menghilangkan dahaga plus Nasi goreng yang wajib ada malam itu. Loh kok wajib? karena kami sedang lapar-laparnya.

Setelah menikmati malam di pinggiran pantai, kami bergegas untuk kembali ke rumah teman yang ada Campalagian, yah perjalanan memakan waktu sekira 1 jam.

(7)    Berziarah Ke Makam Imam Lapeo


Putu dan Apang (jajanan tradisional)

Pukul 07.00. Selamat Pagi Campa, Selamat Pagi Kue Putu dan Apang, juga secangkir teh manis. Sambutan manis di pagi hari. Udara di sana memang cukup panas, terbukti baru kisaran pukul 7 pagi, matahari hadir dengan cahaya terangnya, masuk melewati semua celah-celah rumah. Kamipun kembali bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan.

Depan Makam Imam Lapeo

Pukul 10.00. Kali ini kami ingin berziarah ke makam KH Muhammad Tahir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Imam Lapeo. Beliau merupakan ulama yang menyebar Islam di tanah Jazirah Mandar, ulama yang juga di kenal dengan banyak karamah (baca;kelebihan) kesufian semasa hidupnya. Setelah sepeninggalan beliau, hingga saat ini kuburannya banyak dikunjungi orang-orang dari bergabai wilayah. Sebuh artikel pernah menulis tentang ke karamahan beliau, katanya ada suatu kaedah dalam kewalian dan kesufian yang menyatakan seorang Waliyullah apabila nampak karamah dalam dirinya semasa ia hidup, maka akan nampak pula karamah pada waktu sesudah matinya. Hal inilah yang terjadi pada diri Imam Lapeo dimana kuburannya senantiasa dikunjungi banyak orang.

(8)    Pantai Dato’ Majene 
Pukul 11.30. kami tiba di kota Majene. Cuaca siang ini sangat bagus, matahari bersinar dengan cerah. Sebelum balik ke Mamuju, kami bersama teman-teman Perhimpunan Mahasiwa Tapalang (PERMATA) menyempatkan untuk berkunjung ke Pantai Dato’ di Dusun Pangale, Baurung, Banggae Timur, Kabupaten Majene.

Pantai Dato' Majene

Pukul 13.00. Pantai dato’ adalah salah satu objek wisata andalan di kota Majene. Untuk sampai di sana, kita hanya perlu menggunakan waktu sekira 15 menit dengan kondisi jalan yang ukup bagus, biaya masuknya standar, Rp.3.000,- untuk orang dewasa dan Rp.2.000 untuk anak-anak. Pantai Dato’ memang juara, menawarkan panorama alam yang indah dan ketenangan bagi setiap pengunjungnya. Selain itu, hamparan pasir putih yang halus menjadikannya lebih menarik. Tentang kebersihan, pantai ini terbilang bersih.


Karcis masuk di pantai Dato'

Pantai Dato' Majene
Terakhir Setelah menikmati pemandangan ombak di pantai Dato’, kami segera balik dan berpamitan dengan teman-teman PERMATA kemudia kembali melanjutkan perjalanan ke Kota Mamuju.

Nah, itu dia catatan perjalananku di penghujung April di Tanah Mandar. Sampai jumpa di Perjalanan-perjalanan berikutnya yah.  Sekian dan terima kasih

#TravelBlogger
#KitaPerempuan
#Na77




1 komentar:

  1. Carilah Agen Poker & Domino99 Online Yang Bisa Dipercaya !!
    Sahabatkartu Adalah Situs Domino99 Online Terbaik
    Daftar Dan Dapatkan BONUS 0.5% DI Setiap Hari Senin
    W.A : +85581734028
    PIN BB : 2BCDBEE2

    BalasHapus

Sajak Patah Hati

Untuk seseorang yang benar-benar kurindukan malam ini, semoga kabarmu baik di sana. malam ini aku tak kuasa menahan malu kepada lan...