Senin, 30 April 2018

Penghujung April Di Tanah mandar


Kali ini, aku dan dua orang temanku (Nummi, Misba) melakukan perjalanan ke Kabupaten Majene  dan Polewali Mandar, dua Kabupaten di Sulawesi Barat yang berada di bagian selatan dari Kota kami (baca;Kabupaten Mamuju). Tak ada misi khusus, hanya ingin mengunjungi beberapa tempat yang ada di sana dan sekaligus liburan. hehe

(1)    Dari Mamuju Menuju Majene
Pukul 10.00. Kami melakukan perjalanan dari Mamuju menuju Majene menggunakan roda dua dengan jarak tempuh sekitar 3 jam dengan kondisi jalan berkelok-kelok dan beberapa jalan yang rusak di sana-sini. Sepanjang perjalanan, di bawah terik matahari, kami menikmati suguhan pemandangan pantai dan gunung yang cukup menyejukkan mata.

Gerbang Wisata Kuliner Somba

Pukul 12.30. Terpampang dengan jelas tulisan “Selamat Datang Kawasan Wisata Kuliner Mosso”, tepatnya di Somba, Kecamatan Sendana. Tempat yang dikenal dengan kuliner pengasapan ikan terbang (TUIng-Tuing) ini menjadi pilihan kami untuk beristirahat segaligus makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Majene. Di sana berbagai menu andalan telah tersedia, seperti ikan tuing-tuing yang telah diasap, jepa, cumi-cumi, dan waktu itu aku memilih untuk menyantap ikan asap dan jepa sedang temanku memilih cumi-cumi dicampur nasi putih, sesekali ia juga mencoba makanan pilihanku. Setelah kurang lebih 1 jam makan dan istirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Ikan Tuing-Tuing dan Jepa.

(2)    Kota Majene
Pukul 14.00. Selamat datang di Bumi Assamalewuang Kota Majene. Kata Majene berarti Manje’ne’ (Berwudhu) atau bisa juga diartikan sebagai air yang disucikan. Konon, Majene merupakan sifat yang melekat pada jiwa masyarakat dari dulu hingga saat ini. Majene juga dikenal sebagai Dinasti Kota Pendidikan di Provinsi Sulawesi Barat, di sana ada Universitas Sulawesi Barat (UNSULBAR) , Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) dan beberapa kampus-kampus swasta lainnya.

Di depan Kost teman-teman PERMATA

Setelah tiba di Kota Majene, kami memilih beristirahat di rumah kost salah satu teman mahasiswa Unsulbar yang berasal dari Tapalang di Jl. Hertasning Lembang Majene. Di sana, Kami memilih untuk langsung meluruskan badan yang terasa sakit sesaat setelah melakukan perjalanan dari Kota Mamuju.

Pukul 17.00. Setelah beristirahat, kami bersiap siap menuju Buttu Baruga, detail lokasinya saya pun masih bingung. Maklum orang baru. Yang pasti untuk sampai di sana kita membutuhkan waktu kisaran 45 menit dengan kondisi jalan yang cukup menantang. Kenapa memilih tempat itu? Hmmm, jawabannya sederhana, karena kebetulan ada teman yang melaksanakan kegiatan orgaisasinya disana. Kami tak tahu rupa dari Buttu Baruga tersebut, yang kami bisa bayangkan adalah Buttu (baca; Gunung) dengan keindahan khasnya.

View Buttu Baruga
Tapi beruntungnya kami, Buttu Baruga menyuguhnya pemandangan yang sangat luar biasa,  dikelilingi bukit yang hijau, berbagai tanaman masyarakat dan tanaman yang paling mendominasi adalah  bawang.

Tanaman Bawang di Buttu Baruga

Pukul 19.00. Suhu semakin dingin, embun mulai berdatangan. Sialnya, kami tak menggunakan jaket. Hal terakhir yang bisa kami lakukan adalah menikmati dinginnya. Awalnya tak ada niatan untuk menginap di sana, itulah mengapa kami tak mempersiapkan diri dengan kondisi di sana termasuk membawa jaket.  Tapi karena akses jalan yang cukup jauh dan harus melewati beberapa tempat yang sunyi, gelap dan banyak anjing, kami memilih untuk menginap. Malam kami ditutup dengan berdiskusi bersama teman-teman di bawah sinar sang rembulan yang dihiasi dengan banyak bintang. Sungguh malam yang asik bersama orang-orang dengan berbagai pemikiran yang luar biasa.

Suasana Pagi Di Buttu Baruga

Pukul 06.00. Selamat Pagi Buttu Baruga. Selamat Pagi pemandangan yang begitu cantik, Selamat Pagi teman-teman yang menikmati malam panjang dengan suhu dingin yang sedikit mencekam dan terima kasih untuk jamuan Kopi dan makan malamnya. Kami akhirnya kembali dan mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan.

(3) Nusa Pustaka Museum and Library Pambusuang.
Pukul 09.00. Kami yang sebelumnya berjumlah 3 orang bertambah menjadi 6 orang melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Polewali Mandar (POLMAN) untuk Mengunjungi Nusa Pustaka yang ada di Pambusuang. Sepanjang perjalanan sangat banyak hal-hal menarik yang bisa kita nikmati, mulai dari patung-patung pahlawan hingga hal-hal yang sangat jarang untuk bisa kita ketui, sebut saja Bendi (baca; delman), merupakan alat transportasi yang kalau di kotaku (baca; Mamuju) sudah tidak ada lagi. Akhirnya, dengan bermodalkan Google Maps kamipun tiba di Nusa Pustaka Museum and Library di Pambusuang, Balanipa, Kapubaten Polewali Mandar. Salah satu tempat yang sejak dulu ingin aku kunjungi.

Bagian depan Nusa Pustaka
Nusa Pustaka adalah perpustakaan milik Muhammad Ridwan Alimuddin yang diresmikan pada Maret 2016 lalu. Setelah mengenalkan Armada Pustaka yang terdiri dari Perahu Pustaka, Bendi Pustaka, Motor Pustaka dan Becak Pustaka tahun 2015 beliau kembali meluncurkan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai museum bahari Mandar. Ini kali kedua aku bertemu dengan beliau, keramahannya masih sama, kamipun tak segan untuk menanyakan berbagai hal bahkan berfoto selfie dengannya. Senang bisa bertemu dan berdiskusi dengan seorang pejuang Literasi yang sudah Go International memperkenalkan budaya Mandar.

Bincang-bincang bersama Bang Ridwan

Setelah berbincang-bincang dan melihat-lihat di setiap sudut Nusa Pustaka, kami berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Hari itu beliau juga sedang disibukkan dengan aktivitas mengecat perahu dan mempersiapkan perlengkapan untuk menghadiri kegiatan yang ada di Kota Makassar.

(4)    Campalagian Polewali Mandar
Pukul 12.00. Tiba di rumah teman di Campalagian. Campalagian atau dikenal juga dengan nama Tomadio, merupakan salah satu Kecamatan di Polewali Mandar. Setelah tiba, Kami langsung menyantap makan siang dan kemudian beristitahat. Suhu udara siang itu begitu panas, tapi rasa lelah dan kantuk mengalahkan semuanya. Kami tertidur hingga sore hari.

Makan siang Mie Titi ala orang Campa

Pukul 16.00. Kami kembali bersiap-siap. Kali ini menuju salah satu tempat wisata yang ada di Polman. Setelah beberapa pilihan ditawarkan kepada kami, akhirnya wisata Pohon Pinus menjadi pilihan. Kalau tadi jumlah kami 6 orang, sekarang kembali 3 orang saja, 3 orang lainnya kembali ke Buttu Baruga tempat kegiatan teman-teman dilaksanakan.

Yang ganjil selalu ingin tergenapi, hehhee. Ditambah 1 teman lagi yang juga sebagai penunjuk jalan menuju lokasi pohon pinus. Menempuh perjalan sekitar 1 jam lebih dengan kondisi jalan yang ibarat kata “perempuan yang sedang hamil dilarang menggunakan jalan tersebut”, kenapa? Karena keselamatan janin akan terancam, tapi karena kami bertiga masih gadis (Belum Nikah), yah amanlah. Meskipun cukup melelahkan. 1 hal yang penting jangan lupa doakan kami yah, semoga jodohnya dimudahkan. Ehh

(5)    Hutan Pohon Pinus Tapango, Polewali Mandar
Pukul 17.30. Pohon Pinus memang memiliki keunikannya sendiri. Selain memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia, tanah yang ditumbuhi pohon pinus kebanyakan dijadikan lokasi wisata. Wajar, sebab tawaran keindahan serta kesejukannya mampu menghipnotis bagi sesiapa saja yang melihatnya.

Hutan Pohon Pinus Tapango

Di Kabupaten Polman tepatnya di Desa Batu, Kecamatan Tapango juga terdapat Hutan Pohon Pinus. Kawasan hutan lindung ini tergolong kawasan yang masih alami. Beberapa alat-alat outbound sudah mulai ada namun belum bisa digunakan untuk umum. Meski terbilang baru, tempat ini sudah ramai dikunjungi. Kebanyakan pengunjung adalah anak-anak muda, yang sekedar datang untuk selfie  dan nongkrong bersama teman-temannya. Untuk kebersihan, di sana pengunjung masih minim kesadaran, kita dengan sangat mudah menemui sampah plastik bekas minuman dan makanan ringan.

Setelah puas menikmati keindahan Hutan Pohon Pinus Tapango, kami akhirnya bergeser menuju Kota Polewali.

(6)    Anjungan Pantai Bahari Polewali Mandar
Pukul 20.00. kok rame yah? Kan malam minggu, jawab salah satu teman. Di manapun, malam minggu memang identik dengan keramaian. Katanya malam panjang, malam asyik buat ngumpul bareng teman maupun keluarga, baik di rumah maupun di luar rumah.

Sebelum menuju pantai bahari, setelah balik dari Lokasi Hutan Pohon Pinus, kami mampir di sekretariat teman-teman Himagri di Manding. Dengan mereka, beberapa jam bertemu sudah seperti orang yang bertahun-tahun kenal. Mereka memiliki kepribadian yang baik, ramah, menyenangkan dan nilai persaudaraan yang tinggi. Kesan yang baik di awal peretemuan, semoga bisa kembali bersua dengan suasana kekeluargaan yang sama.

Ini kali kedua aku berkunjung ke pantai Bahari Polewali, dengan suasana yang berbeda tentunya. Pertama aku datang saat senja hadir dengan begitu cantik, kedua, tepat di malam minggu, kami ditemani sang rembulan, dengar cahayanya yang seolah memberi isyarat kebahagiaan. Jus Alpukat dan Buah Naga juga tak ketinggalan untuk menghilangkan dahaga plus Nasi goreng yang wajib ada malam itu. Loh kok wajib? karena kami sedang lapar-laparnya.

Setelah menikmati malam di pinggiran pantai, kami bergegas untuk kembali ke rumah teman yang ada Campalagian, yah perjalanan memakan waktu sekira 1 jam.

(7)    Berziarah Ke Makam Imam Lapeo


Putu dan Apang (jajanan tradisional)

Pukul 07.00. Selamat Pagi Campa, Selamat Pagi Kue Putu dan Apang, juga secangkir teh manis. Sambutan manis di pagi hari. Udara di sana memang cukup panas, terbukti baru kisaran pukul 7 pagi, matahari hadir dengan cahaya terangnya, masuk melewati semua celah-celah rumah. Kamipun kembali bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan.

Depan Makam Imam Lapeo

Pukul 10.00. Kali ini kami ingin berziarah ke makam KH Muhammad Tahir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Imam Lapeo. Beliau merupakan ulama yang menyebar Islam di tanah Jazirah Mandar, ulama yang juga di kenal dengan banyak karamah (baca;kelebihan) kesufian semasa hidupnya. Setelah sepeninggalan beliau, hingga saat ini kuburannya banyak dikunjungi orang-orang dari bergabai wilayah. Sebuh artikel pernah menulis tentang ke karamahan beliau, katanya ada suatu kaedah dalam kewalian dan kesufian yang menyatakan seorang Waliyullah apabila nampak karamah dalam dirinya semasa ia hidup, maka akan nampak pula karamah pada waktu sesudah matinya. Hal inilah yang terjadi pada diri Imam Lapeo dimana kuburannya senantiasa dikunjungi banyak orang.

(8)    Pantai Dato’ Majene 
Pukul 11.30. kami tiba di kota Majene. Cuaca siang ini sangat bagus, matahari bersinar dengan cerah. Sebelum balik ke Mamuju, kami bersama teman-teman Perhimpunan Mahasiwa Tapalang (PERMATA) menyempatkan untuk berkunjung ke Pantai Dato’ di Dusun Pangale, Baurung, Banggae Timur, Kabupaten Majene.

Pantai Dato' Majene

Pukul 13.00. Pantai dato’ adalah salah satu objek wisata andalan di kota Majene. Untuk sampai di sana, kita hanya perlu menggunakan waktu sekira 15 menit dengan kondisi jalan yang ukup bagus, biaya masuknya standar, Rp.3.000,- untuk orang dewasa dan Rp.2.000 untuk anak-anak. Pantai Dato’ memang juara, menawarkan panorama alam yang indah dan ketenangan bagi setiap pengunjungnya. Selain itu, hamparan pasir putih yang halus menjadikannya lebih menarik. Tentang kebersihan, pantai ini terbilang bersih.


Karcis masuk di pantai Dato'

Pantai Dato' Majene
Terakhir Setelah menikmati pemandangan ombak di pantai Dato’, kami segera balik dan berpamitan dengan teman-teman PERMATA kemudia kembali melanjutkan perjalanan ke Kota Mamuju.

Nah, itu dia catatan perjalananku di penghujung April di Tanah Mandar. Sampai jumpa di Perjalanan-perjalanan berikutnya yah.  Sekian dan terima kasih

#TravelBlogger
#KitaPerempuan
#Na77




Senin, 23 April 2018

Camp And Teaching; Membumikan Literasi di sudut Kota


“Tapi, bagiku satu hal yang pasti adalah,
 jika hal itu telah kau namai “Perjalanan”,
maka yang harus kamu lakukan adalah berjalan
 dan terus berjalan hingga kau sampai pada tujuan”.

Pukul 05.00 Pagi, Alarm berdering dengan begitu nyaring hingga membangunkanku dari lelapnya tidur panjang semalam.  Lelap yang bersumber dari Rasa lelah yang menyerang cukup kuat setelah kembali melakukan perjalanan. Selamat Pagi Kamarku, Selamat Pagi Mamaku, Selamat Pagi Cintaku.

Pagi ini, sambil mendengarkan alunan lagu milik fourtwnty, Salah satu band yang lagunya banyak mengisi playlist di Mp3ku, kembali kurenungkan perjalanan selama dua hari yang telah kulakukan bersama teman-teman di salah satu tempat terpencil di kotaku. Perjalanan ini dimulai dari diskusi panjang bersama teman-teman Komunitas Perempuan Peduli (KPP) Mamuju dan dan teman-teman darii Perhimpunan Mahasiswa Tapalang (PERMATA), yang akhirnya kami membuat keputuskan untuk berkunjung ke SD Tasipa yang lokasinya berada  di Dusun Tasipa, Desa Rantedoda, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju.

Baligho Kegiatan

Kunjungan Kami kali ini akan mengadakan kegiatan “Camp and Teaching” Sekaligus merayakan Hari Kartini yang setiap tahun pada tanggal 21 April Indonesia memperingatinya. Tujuannya sederhana, kembali menemui seonggok problematika dalam dunia pedidikan dan mulai merawat kegiatan literasi yang menjadi langkah awal untuk kami tawarkan di tengah keterbatasan yang ada.

SD Tasipa’ merupakan sekolah dengan jumlah guru yang seadanya dan jumlah keseluruhan siswanya kurang dari 25 orang.  Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa bisa menginjakkan kaki di sana, tempat yang setiap harinya menghadirkan anak-anak dengan beragam cita-cita dan percaya untuk menggapainya dimulai dari ia bersekolah, juga sang guru dengan jiwa pendidik yang membara di dalam dirinya.

Perjalan menuju Dusun Tasipa

Untuk sampai di sana bukanlah hal yang mudah tapi bukan juga sesuatu yang mustahil. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan kondisi yang memprihatinkan membuat aku dan teman-teman merasa tertantang. Menyebrangi sungai kecil, mendaki dan menuruni jalan yang becek dan licin, merasakan terik matahari menusuk ubun-ubun hingga sentuhan air hujan yang membahasahi seluruh tubuh. Tapi, bagiku satu hal yang pasti adalah, jika hal itu telah kau namai “Perjalanan”, maka yang harus kamu lakukan adalah berjalan dan terus berjalan hingga kau sampai pada tujuan.
***

seberapun kuatnya perasaanmu,
jangan sampai mengalahkan logikamu.
-          @peyemp

Pukul 14.00 WITA, Kami telah sampai di lokasi, tepatnya Dusun Tasipa. Hujan yang telah redah kembali turun menyambut kedatangan kami, suhu dingin dan lapar pun tak segan menyapa, mengisyaratkan  bahwa kami  harus segera berganti pakaian dan makan. Karena hujan yang tak kunjung redah, kami mengurungkan niat untuk membangun tenda dan memilih sekolah untuk menjadi tempat peristirahatan sementara. Aku dan beberapa teman-teman dengan sigap menyiapkan makanan sementara teman-teman yang lain menyiapkan segala perlengkapan selama kami di sana.

Setelah semuanya selesai (berganti pakain, makan), sembari menunggu redahnya hujan, kami terbagi dengan melakukan aktivitas masing-masing dan waktu itu aku memilih kembali meneruskan bacaan yang sempat tertunda. Sore yang begitu menarik, ditemani hujan, dikelilingi embun dan sebuah buku yang berjudul “Peyempuan”. Buku yang sengaja menampilkan berbagai karakter perempuan dan mencoba mengungkap sisi lain dari seorang perempuan. Ada pesan untuk kita di halaman 30, katanya, seberapun kuatnya perasaanmu, jangan sampai mengalahkan logikamu. That’s Right !!!

***

“Kak, nanti malam mauka menyanyi,
 kak saya mau membaca puisi,
 kak saya juga mau membaca puisi.
 Ucap mereka dengan penuh semangat”

Pukul 17.00 WITA tenda telah terpasang. Hujan redah menyisakan bau khas bumi, embun yang semakin pekat juga tak mau kalah dalam menampilkan keindahannya serta genangan air yang hadir di setiap ruang kelas. Adik-adik pun mulai berdatangan, membawa senyum keceriaan serta sebagiannya lagi masih terlihat bingung. Mungkin masih bertanya-tanya mengapa kami berada di sekolahnya.

Setelah berkumpul di depan sekolah, kami langsung melakukan perkenalan dan kemudian menjelaskan maksud kedatangan kami di sana. Selanjutnya kami membagi mereka menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok didampingi kakak-kakak. Tujuannya, agar memudahkan kakak-kakak dalam mengenali dan melihat minat serta bakatnya mereka yang kemudian di malam hari akan ditampilkan di hadapan semua siswa dan kakak-kakak.

Langit yang cerah perlahan-lahan mulai menghitam, tapi semangat adik-adik untuk menunjukkan kreatifitasnya tak kunjung pudar. Mereka begitu antusias untuk kegiatan sebentar malam, hal yang sangat langka dalam hidupnya. Kak, nanti malam mauka menyanyi, kak saya mau membaca puisi, kak saya juga mau membaca puisi. Ucap mereka dengan penuh semangat

Setelah kembali ke rumah masing-masing untuk mandi dan pergi mengaji, adik-adik dengan tepat waktu kembali datang ke sekolah untuk mengikuti kegiatan malam. Mereka dengan semangat tinggi masing-masing kelompok menemui kakak pendamping. Tapi malam itu cuaca tak bersahabat, hujan turun dan mengharuskan kakak-kakak mengarahkan mereka untuk segera kembali kerumah masing-masing dan sebagian lagi yang jarak rumahnya dan sekolah cukup jauh diantar oleh kakak pendamping. Terakhir mereka diingatkan untuk besok pagi kembali ke sekolah karena kegiatan selanjutnya akan dilaksanakan.
***

Kalau kata kartini habis gelap terbitlah terang,
kataku, habis hujan terbitlah jalan becek dan licin
Sebuah fenomena alam yang senantiasa ditemukan di dusun Tasipa.

Selamat pagi Tasipa. Terima kasih untuk tumpangannya pak dusun dan ibu dusun yang begitu ramah. Jadi, karena kondisi cuaca yang kurang bersahabat, aku dan teman-teman perempuan lainnya memilih untuk beristirahat di rumah warga, sedang yang laki-laki tetap memilih tidur di tenda. Malam itu aku kesulitan untuk tidur, entah kenapa, perasaan gelisah menyerang dengan tiba-tiba. Tapi, Setelah berupaya cukup lama akhirnya tertidur juga. Aku yang mulai tertidur kemudian harus dibangunkan lagi oleh suhu dingin yang terasa hingga ketulang, dengan gerakan cepat kuambil jaketku dan memasangnya lalu kembali melanjutkan tidur.

Kalau kata kartini habis gelap terbitlah terang, kataku habis hujan terbitlah jalan becek dan licin. Sebuah fenomena alam yang senantiasa ditemukan di dusun Tasipa. Hal ini kemudian membuat para guru kesulitan untuk hadir di sekolah. Kondisi jalan yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua yang telah dimodifikasi serta dibutuhkan pula keahlian dalam mengendarainya membuat para tenaga pengajar mengurungkan niatnya untuk kesekolah, tujuannya tentu demi menjaga keselamatan. Yang bisa mereka lakukan adalah menunggu jalan mulai membaik, minimal tanahnya yang mulai mengering.

Pukul 07.00 Pagi, satu persatu adik-adik mulai berdatangan di sekolah. Kami pun mulai bergegas, menyiapkan segala perlengkapan untuk kegiatan. Sebelum berangkat ke sekolah, kami menyantap masakan ibu dusun yang sejak tadi ia hidangkan. Keramahannya membuat kami merasa nyaman. Hal yang seperti itu tidak hanya kami dapatkan di rumah pak dusun saja, tapi semua rumah yang kami lewati dan terlihat ada penghuninya dengan mudah melemparkan senyum yang ramah seraya meminta kami untuk mampir di rumahnya. Wah, sungguh suasana yang begitu luar biasa. Keramahan penduduk di sana selaras dengan etika anak-anak mereka. Rata-rata siswa mengedepankan etika di hadapan orang yang lebih dewasa, di sana aku belajar banyak pada mereka.

***

Ki Hadjar Dewantara “Jadikan setiap tempat sebagai sekolah
dan jadikan setiap orang sebagai guru”.
Sekolah tak semerta merta ruang kelas berukuran 3x4 meter persegi,
tapi di mana kamu bisa mendapatkan pengathuan, maka itu adalah sekolah.

Pukul 09.00 WITA, Matahari begitu cerah, tapi suhu udara masih tetap terasa dingin. Kami memulai kegiatan PECI atau singkatan dari Petualangan Cilik. Kami menyediakan 6 Pos diantaranya, Pos 1 Seni Budaya, Pos 2 Literasi, Pos 3 Games, Pos 4 Motivasi, Pos 5 Nasionalisme, Pos 6 Evaluasi. Setiap pos memiliki pendamping. Semua adik-adik akan melewati pos-pos yang telah disediakan dan mengikuti segala rangkaian kegiatan di setiap pos yang ada.

Untuk semua kegiatan, kami memilih melakukannya di Alam bebas, dengan metode belajar sambil bermain dan mengajar untuk belajar. Alam adalah guru dengan segala hal yang dilakukan manusia, hingga membumilah kata-kata Ki Hadjar Dewantara “Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang sebagai guru”. Sekolah tak semerta merta ruang kelas berukuran 3x4 meter persegi, tapi di mana kamu bisa mendapatkan pengathuan, maka itu adalah sekolah.

Setelah kegitan PECI selesai, kami semua kembali ke sekolah. Adik-adik kembali diminta untuk pulang kerumah masing-masing untuk melaksanakan shalat dzuhur dan mengaji. Sekedar diketahui, bahwa adik-adik yang ada di dusun Tasipa memiliki jadwal mengaji 2 kali sehari yaitu siang dan malam, maka tak heran rata-rata bacaan Al-quran mereka sangat fasih dan kebanyakan bercita-cita menjadi hafish Qur’an. Hal yang sangat sulit ditemukan di era millenials ini.

Sembari menunggu kedatangan adik-adik, kami juga menyiapkan segala perlengkapan untuk kegiatan terakhir yaitu pembagian tas dan alat tulis kepada semua siswa yang ada di SD Tasipa. sebelumnya ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada setiap donatur yang telah mempercayakan kami sebagai jembatan untuk berbagi kepada adik-adik kita yang berada di wilayah terpencil. Terima kasih untuk tetap peduli.
***

“Jangan mengambil sesuatu kecuali  gambar,
 jangan meninggalkan sesuatu kecuali tapak kaki/jejak”
dan jangan membunuh apapaun kecuali waktu”

Pukul 14.00 WITA, adik-adik kembali datang ke sekolah dengan semangat yang masih sama. kamipun langsung menyambut mereka dengan hati yang gembira. Diluar ekspektasi, aku yang mengira bahwa mereka mungkin tidak akan datang karena kelelahan sehabis mengikuti kegiatan Petualangan Cilik dan keharusan mereka untuk pergi mengaji, tapi ternyata mereka masih menampilkan senyum yang sama dan keceriaan yang memecah keheningan puncak Tasipa siang itu.

Setelah membagikan peralatan sekolah berupa tas dan alat tulis, kami mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan Camp and Teaching di SD Tasipa. Selanjutnya kami melakukan baksos bersama adik-adik dengan membersihkan pekarangan sekolah dan peralatan sekolah yang telah digunakan. Masih jelas dalam ingatan kode etik pencinta alam, pesan yang selalu disampaikan kepadaku saat ingin bersiap-siap untuk meninggalkan lokasi kegiatan adalah “Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar, jangan meninggalkan apapun kecuali tapak kaki/jejak, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu”, hal itu kemudian kusampaikan lagi dan lagi kepada semua teman-teman yang ikut melakukan perjalanan.

Foto Bersama adik-adik setelah pembagian Tas dan alat tulis.

Semua telah terpacking dengan baik. Kamipun telah pamit dengan Pak Dusun serta masyarakat juga adik-adik yang ada di sana, kebanyakan dari mereka meminta kami untuk tetap tinggal, dan lainnya meminta kami untuk segera kembali lagi. Harapan kami tentu bisa memenuhi keinginan mereka,, kembali dan melakukan hal-hal bermanfaat bersama mereka. Kami hanya meminta Doa dari semuanya untuk memudahkan kemi untuk kembali berkunjung dan bisa berkumpul bersama masyarakat dan adik-adik yang ada di sana.

Terakhir, kuucapkan selamat hari lahir Raden Ayu Kartini (Jepara, 21 April 1879 – Rembang, 17 September 1904), mari merefleksi pemikiran Kartini sebagai perempuan biasa dan sebagai Pahlawan Perempuan yang dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita.

#SalamCare
#SalamLiterasi
#SalamEdukasi
#SalamLestari

Kamis, 19 April 2018

Sebab Aku Adalah Bidadari; Introduksi Tafsir Teosofis Atas Perempuan




CANTIK. Siapa yang tidak ingin disandingkan dengan adjektif tersebut. Sebuah kata pendek, tapi melahirkan varian makna, aksentuasi bahkan terkadang reaksi imajinatif psikologis.

Artikel ini sengaja penulis susun sebagai kajian Introduksi atas tafsir teosofis atas perempuan. Sebuah analisis sebagai upaya menengok lebih dalam tentang pandangan Islam terkait vogue kecantikan perempuan.

Dalam Islam, pengertian cantik hakiki dan ideal adalah kecantikan yang bersumber pada dimensi ilahiah. Bagi perempuan sejati, keinginan untuk menjadi cantik bak bidadari syurga merupakan dambaan paling indah. Menjadi bidadari seperti gambaran ideal perempuan dalam naskah-naskah Ilahiah. Islam memandang puncak kecantikan wanita berbanding lurus dengan tingkat ketundukan dan kepasrahannya pada Allah SWT; "Adalah hari yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syuara: 88 – 89)

Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Salam bersabda: “Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati. (HR Muttafaq alaih)

Mari kita garis bawahi Hadits Rasulullah SAW diatas "HATI", ternyata semua sumber penampakan lahiriah itu sangat tergantung dari hati. Hati memainkan peran esensial. Peran hati seumpama seorang Komando yang mengatur dan mengontrol anggota badan yang lain ,semua tunduk kepadanya. Hati menjadi radar motivator yang menggerakkan fungsi akal, emosi dan gerak dan semua terkoordinasi dan terintegrasi dengan cantik sekali, yang menghasilkan dan mencerminkan pribadi perempuan yang unggul dan menawan. Sungguh betapa indah akhlaknya, jika ia seorang ibu, tangan-tangannya begitu lembut dan terasa kehangatan dalam mendidik anak-anaknya dalam menapaki kehidupan yang benar dan islami. Kasih sayang kecintaanya juga begitu menggebu dihadapan suaminya sehinggakan ia merupakan sosok yang selalu dirindu dan diingati. Akhlak yang terpuji menjadi kebanggaan kedua orang tuanya serta semangat untuk melakukan perubahan menjadi agenda utama dirinya baik perubahan diri, sosial dan keluarga. Maka bila kini kita telah tersadar utuk mempercantik diri secara lahiriyah, mempercantiknya dengan busana dan polesan kulit yg sesuai aturan Allah, maka mari kita sadarkan diri kita untuk mempercantik batiniyah kita dengan sabar, tawakal, lebih dekat dengan Allah SWT.

Jika itu diaktualkan, maka dengan sendirinya akan lahirlah amalan yg akan menampakkan kecantikan dari dalam (inner beauty) amalan yg juga di ridhoi Allah SWT. Hal-hal di atas, akan menciptakan pergerakan dinamis dari titik potensial menuju aktual dalam lima varian:

1. Pancaran ketenangan dan keceriaan
Pancaran keceriaan dan ketenangan merupakan pancaran suasana hati. Ketenangan, keceriaan, dapat dirasakan oleh setiap orang yang hidup hatinya. Sebab cahaya dan kegelapan, kebaikan dan kejahatan di dalam hati ini seringkali terbias pada wajah dan mata. Kedua anggota tubuh ini (wajah dan mata) banyak sekali terkait dengan aktifitas hati Perhatikan Firman ALlah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda tandanya (Muhammad:30). Di ayat lain menyebutkan, “Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka.” (Al-Fath:29).

Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya amal kebaikan itu akan memancarkan cahaya di dalam hati, membersitkan sinar pada wajah, kekuatan pada tubuh, kelimpahan dalam rizki dan menumbuhkan rasa cinta di hati manusia kepadanya. Sesungguhnya amal kejahatan itu akan menggelapkan hati, menyuramkan wajah, melemahkan badan, mengurangkan rizki dan menimbulkan rasa benci di hati manusia kepadanya.” (Tafsir Ibnu Katsir (IV/204)).

2. Hikmah dan bijaksana
Hatinya selalu menimbang dengan timbangan akhirat sehingga segala urusan dunia yang bertentangan dengan syariat Allah dan Rasul-Nya akan mudah ia singkirkan dan tinggalkan. Jiwanya dipenuhi dengan kepercayaan yang tinggi bahwa segala sesuatu yang tercipta dan tertaqdir untuk dirinya pasti mengandungi pesan pesan Allah, yang pesan pesan tersebut merupakan kunci bagi dirinya tuk dapat membuka pitu akhirat kelak. Banyak peristiwa yang mungkin menyedihkan,menyesakkan dan menakutkan tapi dilalui itu semua dengan ketenangan hati.

3. Keyakinan
Optimis atau keyakinan seorang muslimah merupakan product unggul pribadi yang Ihsan yaitu kepribadian yang didasarkan pada keyakinan bahwa dirinya adalah "messenger" di bumi ini sehingga selalu berusaha untuk membuat kebaikan yang optimal bagi dirinnya, keluarga dan lingkungannya atas kemampuan yang Allah anugerahkan. Perempuan berkepribadian cantik paham betul bahwa, bukan pada makhluk ia harus bertanggung jawab tapi pada Rabb semesta alam sehinggakan semua aktifitas tersentral pada kacamata Allah SWT.

4. Empati
Bersikap Empati lahir dari hati yang lembut yang memahami bahwa kehidupan dirinya di dunia ini bukan diatas keinginan dan kesenangan pribadi. Akan tetapi atas kesadaran bahwa setiap pribadi ihsan dalam pandangan Islam dituntut untuk saling tolong menolong, bersikap toleransi, pengorbanan yang semua ini merupakan warna kehidupan yang sebenarnya diantara seorang muslim dengan muslim lainnya (ukhuwah) dan atau antara muslim dan golongan diluar muslim.

5. Aktif dan produktif
Keaktifan dan produktifitas seorang muslimah terlihat pada kepekaan dan tanggung jawabnya pada diri,keluarga dan lingkungan. Hal ini teraplikasi dengan amal amal sholih yang baik dan terancang rapi. Perempuan sejati nan menawan adalah ia yang selalu mengagendakan semua aktifitasnya dalam mencari Ridha Allah SWT, sehingga rutinitas kesehariannya akan membawa mamfaat bagi dirinya berupa pahala yang Allah janjikan dan juga sekitarnya .

‘‘Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan” (QS Al Imran : 195). ”Dan barangsiapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS An nahl : 97)

6. Cerdas dan kreatif
Kecerdasan muslimah akan terus tumbuh dengan proses perjalanan hidup yang dilaluinya terutama ketika proses tsb diiringi dengan proses belajar yang menjadi bagian wajib bagi dirinya Dengan daya kreatifitas ini maka akan lahir keterampilan keterampilan unggulan seperti: Ketermpilan komunikasi (personal komunikasi dan itra personal komunikasi), keterampilan memecahkan masalah, keterampilan memanage emosi serta keterampilan aktualisasi diri.

Wawasan eksistensial Islam mendorong perempuan untuk memahami semua keistimewaan innershipnya. Islam menegaskan perempuan sebagai mahluk yang potensial di balik kelembutannya. Pertanyaannya adalah, siapkah kitasebagai perempuan menjadi bidadari?

Ternyata Bukan Rindu Yang Berat, Tapi Baper


Temanku pernah bilang gini, kamu percaya nggak kalau RINDU itu berat?, dengan spontan aku menjawab yah, aku percaya. Trus ia ngasih pertanyaan lagi, kamu tahu nggak apa yang lebih berat dari RINDU?, Hmmmm, apayah? Gak tahu, memangnya apa?, dengan wajah sumringah dan sedikit tersenyum, ia menjawab BAPER. Lalu kami tertawa bersama.........


Baper adalah istilah yang sering digunakan anak jaman now. Di era millenial seperti sekarang ini, berbagai  istilah yang menunjukkan modernitas suatu kaum sangat mudah ditemukan. Dari yang biasa saja, hingga sesuatu yang  sampai pada puncak ketenaran alias viral. Nah, salah satunya adalah BAPER, satu kata yang lagi trend digunakan untuk menjelaskan seseorang yang suka terbawa perasaan sesaat setelah mengalami suatu kejadian. Misalnya, seorang cewek punya teman cowok yang senang memberi perhatian, si cewek tiba-tiba dengan sepihak menjudge bahwa cowok itu suka sama dia, sedangkan pada kenyataanya, si cowok itu hanya biasa saja dan melakukan itu kepada semua temannya. Eitsss,, semoga yang lagi baca tulisan ini tidak pernah mengalaminya. Kalaupun sudah terlanjur mengalami, semoga bisa segera menyadari dan move on. Sebab, rasa yang tak terbalaskan itu sedikit malunya banyak ngenesnya. hahahaha

Terserang  “Baper” atau mengalami efek dari bapernya teman memang sedikit sial. Sialnya di mana? Ketika kita tidak mampu menyikapinya dengan baik. Memuncaknya amarah dan ego dalam diri dan menjadikan semuanya berubah 360˚. Lalu apa? Hubungan yang awalnya sangat baik menjadi renggang, sapaan yang senantiasa ramah berubah menjadi arogan, dan putusnya komunisasi antara satu sama lain adalah konsekuensi yang harus diterima. Ini tentu bukanlah hal yang baik dan kita inginkan dalam berteman. Jadi solusinya gimana?
  • Mengenal Diri
Dengan mengenal diri, kamu akan lebih tahu hal-hal yang memang cocok denganmu, dan tidak akan mudah terpengaruh oleh sesuatu yang sifatnya hanya sementara. Misalnya, hanya karena dia sering memberi perhatian, akhirnya kamu malah terbawa perasaan, padahal kamu punya kriteria mengenai pasangan yang tidak ia miliki.
  • Pelajari Dia
Sangat penting untuk mengetahui dengan siapa kita berteman. Karakteristik teman kita seperti apa dan bagaimana ia memperlakukan teman-temannya. Jangan sampai kamu malu sendiri akibat prasangkamu yang tidak berdasar. Misalnya, tiba-tiba menganggap dia menyukaimu hanya karena ia seringkali mengingatkanmu untuk makan dengan teratur, jangan begadang dan segudang perhatian lainnya.
  • Mendahulukan Rasionalitas di atas Prasangka.
And the last but not least, kamu perlu dan wajib menggunakan akal untuk menilai suatu kejadian, bukan dengan prasangka. Sebab, akal akan menghantakanmu pada penilaian secara objektif sedangkan prasangka hanya akan membawamu pada kesimpulan yang sifatnya subjektif.

Mungkin bagi Dilan, Rindu itu berat, tapi ternyata itu sepenuhnya tidaklah benar. Rindu sudah pasti subjeknya jelas. Jika kamu sedang rindu, temui saja dia. Dan jika terhalang jarak yang memungkinkan untuk tak bisa bertemu, yah, telepon saja dia. Kecanggihan alat komunikasi membuat segalanya jadi mudah. Dan teman ku juga pernah bilang, kalau rindu doakan saja yang terbaik untuknya, insya Allah segala kebaikan akan mendatanginya dan yang telah mendoakannya (NB: ini berlaku buat orang-orang yang percaya kekuatan Doa). Lalu apanya yang berat?

Nah yang berat itu baper alias Bawa Perasaan. Kamu akan mendapati dirimu yang senantiasa menerka-nerka; dia pasti suka makanya perhatian, dia beneran suka nggak yah?, dia merasakan apa yang aku rasakan gak yah?, dan dia dia dia lainnya. Disampaikan takutnya salah kaprah dan malu maluin, belum lagi komunikasi yang flexibel terancam kaku. Tidak disampaiakn takutnya malah keasyikan sendiri dan berakhir dengan ketidakjelasan. Berat kan? Heheeh

Jadi, jangan mudah baper yah, nikmati alur pertemananmu, Jika dia jodohmu, dia gak bakal pergi kemana-mana kok. enjoy the moment!

Sajak Patah Hati

Untuk seseorang yang benar-benar kurindukan malam ini, semoga kabarmu baik di sana. malam ini aku tak kuasa menahan malu kepada lan...