Selasa, 13 Maret 2018

Hei Ambon, Aku Ingin Kembali

Februari 2018, provinsi Maluku memanggil. Tepatnya di kota Ambon, kota dengan tagline Ambon Manise yang berarti Ambon yang cantik, Ambon yang indah. Berkunjung di kawasan timur nusantara telah hadir dalam benakku, entah kapan, tapi yang pasti aku ingin menginjakkan kakiku disana. Rasa penasaran senantiasa menggerogoti imajinasiku saat menyelami artikel yang dengan sangat apik mendeskripsikan keindahan serta problematika sosial yang ada disana yang begitu menarik untuk diperbincangkan. Ambon, aku ingin kesana.
***

Ambon dengan segala stigma tentangnya membuatku dilema, dianggap sebagai wilayah dengan momok ‘keras’, ‘bekas konflik’, mengajakku berfikir lagi dan lagi untuk berkunjung kesana. Namun dengan berbagai pertimbangan yang ada ditambah keinginan yang cukup besar untuk menginjakkan kaki disana, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat. Bagi anak sulawesi, khususnya Barat dan Selatan yang pernah berkunjung ke Ambon dengan menggunakan jalur laut, tentu telah merasakan perjalanan yang cukup panjang berada di atas kapal. Perjalanan dengan waktu tempuh berkisar kurang lebih 46 jam dengan rute Makassar – Bau-Bau – Namlea – Ambon.

Perjalanan menuju Ambon menggunakan Kapal KM. Tidar
Tiba dengan selamat di Pulau Ambon adalah sebuah anugerah yang sangat patut untuk kusyukuri. Betapa tidak, lamanya waktu tempuh malah membuatku berfikir sembarangan, jangan-jangan ini, jangan jangan itu, yang kemudian menjadi bahan tertawaan untuk catatan perjalananku. Maklum, ini pertama kalinya aku bepergian menggunakan jalur laut. Saranku bagi yang sedang membaca tulisan ini, jangan menyamaiku.

“Selamat datang di Amboina, Maluku,”

Stigma memang senantiasa memberikan kejutan-kejutan. Sepekan di Ambon, aku menjumpai banyak hal yang pada akhirnya menggiringku pada kesimpulan bahwa Ambon itu sangat indah, damai dan menjadi salah satu kota yang wajib untuk dikunjungi. Tentang ketakutanku atas masyarakat yang tidak ramah malah berbalik dengan mudahnya aku berinteraksi dengan mereka. Ambon dengan toleransi antar umat beragama begitu mudah kita temui, singkatnya, disana kemanusiaan di atas segala-galanya. Hingga istilah “Ale Rasa, Beta Rasa, Katong samua basudara” membumi di tanah merdeka dengan semboyan Bersatu Manggurebe Maju.

Kota Ambon, selain dikenal sebagai daerah dengan berbagai kuliner khas, salah satunya adalah Papeda, merupakan makanan berupa bubur sagu khas yang mudah kita temui di Maluku dan Papua ini biasanya disajikan dengan ikan yang dibumbui kunyit. Papeda merupakan makanan yang kaya serat, rendah kolesterol dan tentu bernutrisi, teksturnya lengket dan berwarna putih. Kelihatannya enak,  yang katanya akan membuat penikmatnya ketagihan,  tapi sayang sekali, aku memiliki pengalaman buruk saat makan makanan yang serupa beberapa tahun silam, hingga akhirnya aku tidak pernah mau mencobanya lagi. Lanjut, Ambon juga dikenal memiliki banyak tempat wisata yang sangat menarik perhatian. Bahkan katanya ada beberapa tempat di sana, yang ketika kita menjejakkan kaki di Negeri para Raja tersebut, maka kita wajib untuk mengunjunginya. Dintaranya adalah Pulau Pombo, Pantai Liang, Pantai Natsepa, Pantai pintu kota, Pantai santai, permandian air panas, museum Siwalima dan Masjid Wapauwe.

Selain tempat wisata, jika kita berjalan-jalan di kota Ambon, maka dengan mudah kita menemui Ornamen Matahari yang tentu memiliki nilai filosofis yang merujuk pada  makna simbolis yang berhubungan dengan latarbelakang kehidupan kepercayaan Alifuru (asli maluku), adat istiadat dan sosial budaya. Ini menunjukkan kedalaman pahaman-pahaman terhadap nilai-nilai lokal yang sampai sekarang nilai-nilai tersebut masih bertahan.

Ornamen Matahari menghiasa Gerbang Taman Pattimura

***

Pagi itu, dengan semangat yang mengebuh-gebuh, setelah berselancar di dunia maya hanya untuk menemukan tempat yang akan kukunjungi pertama kalinya di kota ambon, akhirnya saya dan beberapa teman memutuskan berkunjung ke Lapangan merdeka, lokasinya berada di pusat kota, dari tempat kami butuh sekitar 45 menit untuk tiba disana menggunakan angkutan kota, bisa juga menggunakan speed boat yang memakan waktu lebih singkat berkisar 5 – 10 menit saja. Tarifnya sama, Rp.5000,-, sangat terjangkau. Karena ini untuk pertama kalinya, maka kami memilih untuk melewati jalur darat dengan menggunakan angkot.

Lapmer atau singkatan untuk lapangan merdeka menjadi salah satu tempat yang ramai dikunjungi masyarakat, dari pagi hingga malam tempat ini seakan tak berkurang penghuninya. Wajar, sebab disana banyak menyuguhkan hal-hal yang unik serta menawarkan kenyamanan untuk sekedar bersantai-santai.

Jalan Menuju Lapmer. Eh ada kakak di Belakang 😃

Saat kami tiba di kota, suasana ramai padatpun mulai terlihat, kendaraan yang berlalu lalang tanpa henti menghiasi jalan, dan akhirnya cuaca panas berganti sejuk segera kami nikmati sesaat setelah memasuki area lapmer. Kalau di Mamuju, sekitaran Anjungan pantai Manakarra adalah tempat berolahraga masyarakat pada minggu pagi. Di Ambon, di lapangan merdekalah tempat berolahraganya. Menjelang sore, orang-orang dengan kostum olahraga mulai berdatangan, juga tak sedikit yang datang hanya untuk ber-selfie ria disana, seperti yang aku dan teman-teman lakukan. Berpose di depan tulisan Ambon Manise yang dibuat dari semen itu berdiri di antara Lapangan Merdeka dan Taman Pattimura.

Patung Capiten Pattimura

Oh iya, jadi area Lapmer sebenarnya juga terdapat taman Pattimura, disana ada patung besar Capiten Pattimura dengan Parang di tangan kanannya dan perisai di tangan kirinya. Siapa yang tidak kenal dengan Pattimura? Pahlawan yang bernama asli Thomas Matulessi ini pastinya sudah kita kenal sejak dulu di Sekolah Dasar. Sebagai tanda penghormatan atas jasa-jasanya kepada Negeri maka masyarakat Ambon membangun patungnya di sebuah taman yang diberi nama sesuai namanya “Taman Pattimura”.

Gedung Kantor Gubernur

Selain itu, disana kita bisa menatap megahnya gedung kantor gubernur Maluku dari pendopo, di depannya ada tangga berwarna hitam hampir vertikal. Di sisi depan berdiri meriam yang sepertinya akan menunjang kemenangan saat perang dunia ke 3 akan di mulai,. Hehehe. Tak cukup sampai disitu, melihat Monumen Gong Perdamaian di seberang Pendopo Lapangan Merdeka Ambon mengingatkanku pada Kota Kelahiranku, disana kita juga menemukan Gong Perdamaian, juga saat aku berkunjung ke Kota Palu sulawesi Tengah. Perpaduan gambar bendera tiap negara di dunia, simbol agama-agama di dunia dan peta Indonesia di Pusat Lingkaran Gong mengisyaratkan persatuan dalam sebuah keragaman. Keberagaman adalah sebuah harmoni, Orang Ambon bilang, “Katong samua basudara”. Ya, kita semua bersaudara.

***


Pasir Putih Pantai Natsepa

Katanya, berkunjung ke Ambon tidak lengkap jika tidak mampir ke Pantai Natsepa. Dan itu benar. Jaraknya cukup dekat dengan pusat kota. Pantai Natsepa adalah pantai berpasir putih yang cantik. Disana, kita bisa menikmati hamparan pasir putih yang halus, laut biru yang memukau, ditambah pepohonan yang menyejukkan pandangan. Meski terlihat tak terurus, pantai Natsepa masih terhitung pantai yang bersih. Selain menikmati keindahan pantai, pengunjung juga wajib mencoba kuliner disana, salah satunya adalah rujak buah. Kuliner rujak buah pantai Natsepa memang khas, kalau kata mama disana, wajib makan rujak buah Natsepa di pantai Natsepa. Bagi yang pernah coba, Rujak buah Natsepa juga memakai buah seperti rujak buah pada umumnya, rasanya pedas manis. Bumbu kacangnya melimpah di atas permukaan rujak, pikirku, inilah yang membedakannya pada rujak buah kebanyakan, dan yang pasti, rujak buah Natsepa hanya bisa dinikmati di pantai Natsepa.

Puas menikmati keindahan pantai yang menjadi salah satu objekwisata di Ambon yang cukup melegenda, bahkan katanya sudah terkenal hingga penjuru Eropa, aku dan teman-teman segera bergegas pulang. Beberapa gambar pun telah diabadikan.

***

Setelah berkunjung ke beberapa tempat di Ambon bersama teman-teman. Kami menyimpulkan bahwa suhu di sana betul-betul panas. Aku yang memang pertama kalinya menginjakkan kaki di Ambon, kehilangan pertahanan daya tahan tubuh karenanya. Alhasil, rasa lelah yang begitu luar biasa, ditambah suhu tubuh naik hingga mengakibatkan demam, serta hidung tersumbat menjadi teman melewati malam waktu itu. Setelah aku, teman-teman yang lain juga mengalaminya. Beruntung, tubuhku mudah beradaptasi, sehingga aku tidak perlu mengalami hal yang sama saat bepergian ke lain tempat. Aku hanya bisa kasih saran untuk kalian yang berencana berkunjung ke Ambon, kiranya tetap menghidrasi tubuh dengan banyak minum air, dan jangan lupa bawa vitamin. Hehehe




to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sajak Patah Hati

Untuk seseorang yang benar-benar kurindukan malam ini, semoga kabarmu baik di sana. malam ini aku tak kuasa menahan malu kepada lan...