Sabtu, 20 Oktober 2018

Sajak Patah Hati


Untuk seseorang yang benar-benar kurindukan malam ini, semoga kabarmu baik di sana.

malam ini aku tak kuasa menahan malu kepada langit atas rindu yang mendera, tak kuasa menahan gejolak rasa yang bulan pun sekaan cemburu melihatnya.

Akankah kau akan datang?
membawa sepucuk harapan untuk kita bisa kembali seperti dulu?

Ataukah engkau hanya akan menjadi dentuman keras dalam dada yang berakhir pada luka nestapa?

Oh, andai kau tak pernah ada, mungkin semua akan baik-baik saja.

Mamuju, di Musim Penghujan.

Selasa, 11 September 2018

Muharram; Bulan Pembuktian Cinta

Potret Langit Mamuju by Misba
Muharram telah tiba. Ucapan selamat atasnya bersambut meriah dari dunia nyata hingga dunia maya. Amalan dan segala jenis ibadah seperti memiliki keistimewaan sendiri di bulan ini. Di sudut malam yang dingin, Aku memilih menatap langit yang bertabur bintang dengan kilau yang seolah memberi isyarat. Yah, bukan pertanda baik apalagi pertanda buruk. Kerlap - kerlip nya seolah membawaku ke dimensi lain, kosong dan begitu asing. Sama sekali tak ada petunjuk di sana. Aku mulai ketakutan, memilih kembali namun tak tahu arah jalan pulang. Semuanya menjadi gelap, hingga cahaya terang tiba-tiba datang menghempas di wajahku dan ...... Aku telah kembali. 

Selamat datang bulan pembuktian cinta, bulan yang paling menyayat hati di antara bulan-bulan lainnya, bulan yang hanya sekedar menyebut namanyapun bulu kuduk ikut merinding dan air mata tumpah ruah membasahi pipi, bulan dengan seonggok sejarah yang juga melukai hati Nabi. 

Malam ini, Aku berakhir pada satu pertanyaan yang tak bisa kujawab. lebih tepatnya, aku kehilangan kepercayaan diri hanya untuk mengatakan Ya dan tampaknya mengatakan Tidak menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk sebuah realitas yang sebegitu menakjubkan bagi seorang manusia labil yang bercita-cita menjadi seorang pencinta dan telah menjadikan Cinta dan Perjuangan sebagai jalan hidupnya untuk mendefinisikan sebuah Nilai.

Aku di ambang keputusasaan. Fakta memilih bersikukuh untuk tetap bersebrangan dengan realitas yang ada. Lalu, adakah Cinta dan Perjuangan itu hadir dalam setiap hal yang kamu lakukan? adakah Nilai yang kamu perjuangkan benar-benar hadir dalam gerak juangmu? Oh Malam, bisakah kamu lebih lama dari biasanya? Aku seperti tersesat bahkan hanya untuk menjawab pertanyaan yang sebelumnya telah matang kuperbincangkan dengan Tuhanku.

Mamuju 11 September 2018

Minggu, 19 Agustus 2018

Sudahkah langkahmu memiliki arah?


Sumber : Google

Hari ini adalah hari dimana aku kembali memulai aktivitas setelah pulih dari sakit dan beberapa hari terakhir memilih beristirahat di rumah. Harapan terbesarku hanya satu, menuntaskan rasa rindu yang begitu menggebu. Sebelumnya kuucapkan terima kasih kepada Tuhan, Ibuku, kakak-kakakku dan teman terkerenku, rasa sakit yang menggerogoti jazadku menemui titik akhir lewat doamu yang terapal dengan rapi, terbang bersama cinta dan menggemah menuju sang Maha Penyembuh.

Benar, bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang keren, kita harus merelakan sesuatu yang keren pula dalam hidup. Salah satunya adalah meninggalkan beberapa aktivitas demi tubuh yang sejak lama  merindukan istirahat yang cukup dan pola hidup sehat. Berada di rumah lebih lama dari biasanya membuatku punya waktu untuk lebih dekat lagi dengan diriku. Loh, bukannya kita tidak pernah terlepas dari diri kita? Hehe iya juga yah. Tapi itu jawabanmu. Tentang itu, aku memiliki pandangan yang sedikit berbeda.

Mengutip perkataan Ihsan Abdul Quddus dalam novelnya, setiap orang memiliki dua sisi: satu untuk orang lain, satu untuk dirinya sendiri dan mustahil menyatukan keduanya. Lewat kutipan tersebut, aku mencoba mencari maksud penulis kelahiran mesir itu dengan cara menemukan jawabannya lewat diriku sendiri. Mengapa? Karena objek riset yang paling mudah dan efektif yang bisa digunakan dalam kondisi yang kurang fit adalah diri sendiri. Meski hasilnya tentu sangat subjektif, tetapi menjadikannya sebagai rentetan dalam proses perenungan tentu adalah hal yang sah-sah saja untuk dilakukan.

Hasilnya, ternyata memang benar, aku juga menemukan bahwa kepribadian itu terbentuk atas ruang lingkup yang kita tempati, kemampuanmu dalam bereaksi dan berinteraksi akan terbentuk seperti dan sebanyak kelompok sosial yang kamu tergabung di dalamnya. Yah, aku melihat diriku di sana, bersama anak-anak, berdiskusi dengan pemuda, bergurau bersama kawan, melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk orang banyak, demi apa? Demi satu kata, bahagia. Untuk satu sisi, semua include dalam satu kesimpulan, yaitu “Bernilai”.

Namun ada sisi lain yang tentu sangat membutuhkan perhatian. Agar lebih memudahkan diriku dalam membedakan, kunamai ia sisi kelemahan. Meski terdengar memberi kesan negatif, kelemahan di sini kuartikan sebagai ruang-ruang yang sulit kuterjemahkan dalam hidupku, sisi yang terkadang banyak menguras energi untuk sekadar memberinya kepastian atas pilihan yang ada. Nah, untuk sisi pertama tentu sudah bisa ditebak yah namanya apa. Tapi skali lagi saya tekankan, penamaan tersebut hanya digunakan untuk memudahkanku saja dalam membedakan dua sisi tadi, bukan untuk mendikotomi mereka dengan predikat baik ataupun buruk.

Untuk sisi kelemahan, sebelum kujelaskan, hari ini bacaanku berakhir pada halaman 70 pada sebuah buku berjudul arah langkah yang menjadi heboh karena keteledoran jasa pengiriminan, hingga berujung dengan sangat terpaksa aku menghilangkan rasa malu meminta bantuan dan sedikit menyusahkan pacar bung Fiersa Besari, neng Aqia. Menarik, sebuah kata terakhir sebelum memasuki bab selanjutnya, katanya, mulai sekarang, aku harus mensyukuri realitas yang pernah aku miliki, daripada terus mengejar fiksi yang tak pernah kumiliki. Coba kita renungkan bersama apa maksud bung mengatakan itu? Kalau yang sudah baca pasti tahu, kalau yang belum, gak papadeh menyesuaikan dengan realitas hidup masing-masing.

Mungkin di antara pembaca hari ini, ada yang bertanya, apa hubungannya ingin menjelaskan sisi kelemahan dengan memberitahukan hasil bacaan? Jika benar ada yang bertanya seperti itu, maka akan kujawab dengan senang hati, dan jika tak ada yang bertanya tentang itu, maka aku akan tetap menjawabnya, bukan dengan senang hati, melainkan dengan hati yang ikhlas. Sisi kelemahan yang sengaja kuberikan eksistensi dalam diriku sangat erat kaitannya dengan judul bukul “Arah Langkah”. Arah langkah, dua kata yang tentu setiap kita punya pendapat yang berbeda tentangnya. Arah langkah, dua kata yang akan menjelaskan mengapa engkau memilih hidup dan tak memilih mati. Arah langkah, dua kata yang akan menunjukkan siapa yang layak dan tidak layak untuk kita perjuangkan.

Kembali ke sisi kelemahan. Sebuah sisi yang lebih realistis dibanding sisi yang kuartikan sebagai kekuatan. Bagaimana cara menemukannya? Sederhana, tapi tak sesederhana yang kita bayangkan, setidaknya itu kesimpulan yang bisa kuberikan setelah benar-benar terlibat dalam misi pencaharian tersebut. Pertama, mulailah dengan merenung, dari mana asalmu, di manakah kamu berada dan hendak kemanakah dirimu berakhir? Apa yang ingin kamu lakukan, apa yang telah kamu lakukan dan apa yang hendak kamu lakukan? Dan sekelumit pertanyaan yang hanya bisa diperoleh melalui perenungan. Dari sisi ini, kutemui kesimpulan yang menakjubkan, sisi yang mestinya lebih dulu kita temui dalam hidup, sebuah sisi yang akan menghantarkan kita “Menjadi Manusia”.

Terakhir, Yang paling terpenting dari sebuah perjalanan adalah kita mengetahui alasan untuk memulai. Tentang dua sisi yang dikatakan penulis novel tersebut, benar bahwa keduanya tak bisa disatukan, masing-masing memiliki keberadaan. Namun, ia berada pada satu eksistensi, yang tak terpisah oleh ruang dan waktu. Untuk perjalanan panjang yang pernah kulalui, bagiku hanya ada dua, “Menjadi Manusia” lalu “Bernilai”.

Agustus 2018
Mamuju

Senin, 02 Juli 2018

Anak Kecil Itu Beranjak Dewasa


Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun. Kulewati dengan segenap kekuatan yang bersumber dari sang pencipta. Dengan sisa usia yang kuyakini semakin mendekat dengan akhir, satu hal yang paling ingin kulakukan, yaitu bermanfaat, lagi dan lagi.

Mengapa bermanfaat?

Bagiku, menjadi bermanfaat adalah sebuah kewajiban, sebuah ajang untuk mendeskripsikan eksistensi dan penunjukan rasa terima kasih atas segala limpahan kasi sayang Tuhan kepada hambaNya. Kamu ada karena kamu bergerak, kamu ada karena kamu berbuat dan bermaanfaatlah maka kamu Ada.

Manusia. seperti angin, kadang ia datang menjadi penyejuk dan menenangkan, terkadang ia juga datang menjadi penyulut api lalu berujung debu, terhempas, hingga menghilang. Dalam hidup, ada yang datang lalu pergi, hidup lalu mati, muda lalu tua, sehat lalu sakit dan segala tetek bengek prosesi alam semesta adalah sebuah keniscayaan bagi makhluk ciptaan.

Dalam moment peringatan hari lahirku kali ini, ada begitu banyak hal yang patut untuk kusyukuri. Ibu masih terlihat sehat dan mampu melakukan aktivitasnya seperti biasa, saudara-saudaraku masih konsisten dengan rasa kepedulian yang sangat tinggi pada adik bungsunya, teman-temanku yang keren dan selalu ada, kakak-kakakku yang tak berasal dari rahim yang sama, yang senantiasa memberikan wejangan serta motivasi untuk senantiasa semangat dan optimis, kuucapkan terima kasih, banyak kekuatanku dimotori kehadiran kalian, dan satu hal yang pasti, dari itu semua, ayah yang telah lama meninggalkanku akan legah mengetahui banyak orang-orang yang peduli dengan anaknya. Peduli berarti menjaga, ia tentu akan senang. Sebab, menjagaku adalah hal yang tak mungkin bisa ia lakukan lagi saat ini. Dari itu, aku juga mencoba mengubah pola, berjanji bahwa aku yang akan menjaga diriku untuk ayahku.

Kembali menyendiri dan merenungi segala apa yang telah kulakukan kini menjadu kebiasaan, apatah lagi saat pergantian usia. Ulang tahun bukanlah moment berhura-hura, melainkan waktu yang sangat cocok untuk kembali merefleksi perjalanan tahunan kita. Dimulai dengan mensyukuri segala apa yang telah didapatkan dan menyorot kembali apa yang telah dilakukan. Tujuannya apa? Cukup sederhana namun tak sesederhana ketika kita akan melakukannya. Manusia adalah makhluk yang sangat terbatas, kadangkala khilaf dan terinfeksi virus egoisme akut, menjadi lupa telah menerima pemakluman dalam kehidupan, dan itu sering disebut manusiawi. Maka dari itu merenung adalah solusi cerdas yang bisa kita lakukan untuk mengevaluasi diri dengan capaian-capaian yang sebelumnya kita rancang untuk dipenuhi.

Terakhir, ayah aku rindu. Sangat rindu. Kamu tentu tahu, aku senantiasa mengakrabkan diri pada beberapa ayah teman-temanku, bukan pura-pura baik, lebih dari itu, kadangkala ada usapan di kepala yang biasa ia berikan, seperti dulu kau mengusap kepalaku saat memberikan nasehat. Aku masih butuh itu, kau tau itu kan?. Ayah, tulisan ini dibuat dengan air mata kerinduan yang mendalam akan sosokmu. Aku ingin mengungkapkannya pada ibu, tapi tak ada sepatah katapun yang mampu keluar dari mulutku saat menatap wajahnya, yang ada hanya air mata yang mengalir deras dan aku memilih tenggelam di pelukannya.

Ayah, ibu semakin menua, aku takut ia akan meninggalkanku juga. Aku takut tak mampu membawa diri untuk sekadar bangkit setelah terpuruk. Meski aku telah cukup dewasa untuk meyakini bahwa semua yang dari padaNya akan kembali kepadaNya, satu hal yang perlu ayah dan ibu tahu, bagiku, selamanya aku hanyalah anak kecil di hadapan kalian, yang senantiasa butuh asupan cinta dan kasih sayang. Terima kasih telah menghadirkanku ke dunia ini. Aku bahagia menjadi anakmu.


Mamuju, 01 Juli 2018.
Nannach Sarliana

Minggu, 03 Juni 2018

Resensi Novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan


Novel Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan yang ditulis oleh Ihsan Abdul Quddus merupakan kisah tentang perempuan yang telah menggapai ambisinya. Sebagai politisi sukses kiprahnya di parlemen dan pelbagai organisasi pergerakan perempuan menempatkan dirinya dalam lingkar elit kekuasaan. Latar belakang politik yang masih konservatif kala itu menjadikannya fenomena baru dalam isu kesadaran gender.
Suad, tokoh utama dalam novel tersebut merupakan seorang perempuan yang dianugerahi kecerdasan dan segudang prestasi sebagai penunjang atas setiap keberhasilannya. Hingga ia yakin bahwa dirinya adalah representatif perempuan sukses yang berhasil mewujudkan setiap cita dan kehendak dirinya. Dia menjadi bintang di semua tempat. Senantiasa ditempatkan dalam baris kehormatan dalam sebuah forum resmi perempuan, maupun media massa. Perjuangannya di mulai tahun 1935, kala itu ia masih berusia lima belas tahun dan menjadi pimpinan gerakan nasionalisme Mesir di sekolahnya demi memerdekakan diri dari penjajahan Inggris.
Nyatanya, keberhasilan tersebut tidak lantas membuatnya puas. Ambisinya semakin bergejolak, ambisi untuk tampil di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menjadi fenomena wanita karier, membangun relasi yang diperlukan oleh wadah yang menaunginya, serta ambisi untuk lebih sukses lagi. Ia berhasil menutup semua peluang kegagalan dalam hidupnya.
Tetapi, kehampaan menyelimuti kehidupan pribadinya dan hampir membuat jiwanya tercerabut. Masalah demi masalah mendera, tak ada cinta yang mengisi hatinya. Bahkan pernikahan baginya hanyalah sebuah keharusan pemenuhan atas pandangan miring yang menjelaskan bahwa segala prestasi perempuan lajang tidak bisa menebus kekurangannya sampai ia melengkapi diri dengan kehadiran suami.
Namun, perceraian mewarnai pernikahan Suad, dikarenakan sekelumit masalah yang hadir atas ketidakmampuannya dalam memposisikan diri sebagai wanita karier, istri, dan ibu dari seorang anak. Awalnya, hak asuh jatuh ketangan Suad, tapi lambat laun menjadi tanggung jawab Abdul Hamid, mantan suaminya. Anak semata wayangnya yang dia anggap sebagai harta paling berharga justru lebih akrab dengan sang ibu tiri.
Kehidupan pribadinya kini tak luput dari terpaan isu, ia kini menyadari bahwa perceraian ternyata memiliki pengaruh terhadap kehidupan sosial seseorang. Setelah sepuluh tahun, Suad kembali memutuskan untuk menikah, ia akhirnya tak mampu melawan stigma masyarakat terhadap seorang janda. Janda diumpamakan sebagai terminal pemberhentian setiap kendaraan. Janda tidak lebih menjadi tempat pemberhentian setiap laki-laki, meski ia telah berusaha menghindari kungkungan isu atas kehidupan pribadinya dengan tak menjalani hubungan spesial dengan satu orang atau sebuah kelompok secara khusus.
Lagi, kegagalan kembali mewarnai pernikahan Suad. Dokter Kamal — seorang dokter yang terkenal — yang dipilihnya sebagai seorang yang akan kembali memulihkan isu negatif terhadap dirinya ternyata tak mampu memahami seorang Suad yang telah dipenuhi ambisi akan kesuksesan kariernya. Dokter Kamal pun tetap bersikeras memposisiskan diri sebagai suami yang mendominasi segala sesuatu yang berkaitan dengan istrinya, termasuk karier dan pekerjaan, hingga satu per satu ketidakcocokan mulai nampak. Suad merasa suaminya telah berusaha mendominasi, dan itu adalah sebuah kekeliruan baginya.
Suad menyadari bahwa kehidupan pribadi dan rumah tangga tidak lebih mudah dibanding mengembangkan karier dan pekerjaan. Hingga suatu kala, ia memutuskan lari dari kehidupan pribadinya. Pada usia lima puluh tahun, ia membunuh kebahagiannya sebagai perempuan. Ia melakukan apa saja untuk melupakan bahwa ia adalah perempuan.
Penutup; Melawan Dominasi dengan Dominasi pula adalah Ketidakadilan
Novel ini merupakan karya Ihsan Abdul Quddus, yang diterjemahkan dari Bahasa Arab oleh Syahid Widi Nugroho. Mengupas pergulatan karier, ambisi dan cinta. Dikemas dalam bahasa sederhana dan mengesankan. Tuntutan kesetaraan gender yang dirajut dalam kisah pertentangan batin seorang perempuan menjadikan novel ini sebagai contoh perjuangan perempuan melawan dominasi dengan menggunakan cara dominasi pula. Sebuah novel yang unfinished, terbatas pada pengungkapan berbagai persoalan yang sedang dialami oleh seorang perempuan yang berujung pada penyesalan dan tak ada upaya untuk keluar dari permasalahan tersebut.
sources : http://www.resensi.co.id/2018/06/02/aku-lupa-bahwa-aku-perempuan-2/

Kamis, 17 Mei 2018

Ayo Menjadi Agen Toleransi



Indonesia dikenal dengan keragamannya. Mulai dari suku, agama, bahasa, ras, budaya, dan adat istiadat. Stigma tentang Perbedaan atas keyakinan terhadap sesuatu menjadi sebuah keniscayaan yang mudah kita temui di masyarakat. Menyikapi itu, tentu penguatan sikap toleransi sangat dibutuhkan dan semestinya menjadi kebutuhan utama bagi kita yang tinggal di negara yang sejak awal tegaknya hingga mencapai kemerdekaannya selalu dipelopori oleh persatuan umat beragama yang berbeda-beda.

Menjelang Ramadhan 2018, Indonesia dihadiahi aksi-aksi teror di beberapa titik, dari Mako Brimob dan beberapa gereja di Surabaya, lanjut di Sidoarjo dan kabarnya Polda Riau pun menjadi titik penyerangan oleh terduga teroris. Kejadian ini memicu banyaknya reaksi dari masyarakat. Anjuran pengecaman atas aksi teror yang telah merenggut banyak nyawa dan menyisakan trauma ini banyak ditemukan di wall sosial media para netizen. Penggiringan opini bahwa pelaku teror adalah penganut agama islam hingga amarah atas tertuduhnya jilbab/cadar sebagai seragam teroris menjadi wacana yang senantiasa bermunculan sebagai jawaban “apa yang anda pikirkan sekarang”.

Terorisme berasal dari kata Teror. Teror dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai usaha untuk menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan tertentu. Terorisme adalah aksi menggiring masyarakat meninggalkan bahkan membenci agama. Terorisme harus diluaskan maknanya mencakup ujaran kebencian via lisan, tulisan, mimbar dan aksi jalanan, tulis Muhsin Labib di dinding Facebooknya. Beliau juga menjelaskan bahwa sejatinya Terorisme bersumber dari ekstremisme. Ekstremisme bersumber dari Intoleransi. Intoleransi bersumber dari benci. Benci bersumber dari takut. Takut bersumber dari rasa terancam. Rasa terancam bersumber dari pengerdilan diri.

Mengecam lalu apa? Jika tak berbuat apa-apa, tentu kata yang cocok untuk itu adalah kecaman kosong. Mengecam tanpa melakukan aksi nyata untuk melawan para teroris yang senantiasa menebar virus intoleransi sama saja dengan membenci namun di lain sisi mencintai. Sejatinya kecaman adalah penolakan terhadap sesuatu yang dinilai tidak benar dengan penggunaan logika yang dimulai sejak dalam fikiran dan pada setiap aktivitas yang kita lakukan. Aktivitas yang seperti apa? Yang dimulai dari diri sendiri; penguatan paham Toleransi.

Mengapa harus Toleransi? Karena toleransi sejatinya mengantarkan kita pada upaya untuk membuka diri dan menerima segala perbedaan yang ada. Lalu apakah kita sudah bertoleransi? Tentu jawabannya bervariatif, ada yang sudah dengan tapi, pun yang telah menyelesaikan dirinya tanpa tapi. Dalam menjawab pertanyaan ini, tentu harus dimulai dengan introspeksi diri dan kembali merefleksi segala aktivitas yang telah kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, bagaimana anda memandang seseorang yang berbeda keyakinan atau bagaiman reaksi anda ketika berjumpa dengan kaum difabel?

Menanamkan sikap Toleran dalam diri adalah langkah awal untuk memerangi segala bentuk radikalisme yang berujung menjadi terorisme. Menjadi agen toleransi adalah sebuah gerakan nyata yang bisa kita lakukan di tengah arus propaganda takfirisme yang berseliweran baik di dunia maya maupun di lingkungan sekitar kita.

Kita bisa memulai dengan menyaring segala bentuk informasi yang sifatnya mendiskreditkan suatu golongan dan atau senantiasa menyebarkan pesan-pesan toleransi di semua tempat dan kalangan. Tujuannya apa? Tentu agar ujaran kebencian tidak dengan mudah meluas dan menjangkiti generasi anak bangsa, agar intoleransi yang sudah semakin menguat mulai meredah dan perlahan akan hilang.

Ayo menjadi agen toleransi.
Bertoleransi sejak dalam pikiran.
Salam damai, salam cinta, salam toleransi.



#catatanperempuan

Minggu, 06 Mei 2018

Pakaian Dalam Perempuan; Interpretasi Berujung Kontroversi



Entah apa yang ada dalam fikiran teman-teman Wartawan. Baru-baru ini, telah massif beredar foto sejumlah wartawan yang sedang melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Bank Indonesia (BI) Sulbar dengan menggunakan alat peraga “pakaian dalam perempuan” , tepatnya pada tanggal 2 mei 2018. Dari masalembo.com menjelaskan ini merupakan buntut dari pernyataan Kepala Bank Indonesia (BI) Sulbar di sebuah grup whatsapp tentang beberapa media online yang kerap melakukan Copy Paste dalam pembuatan berita yang kemudian teman-teman jurnalis menilai pernyataan tersebut melecehkan profesi wartawan.

Akhirnya saya mengambil kesimpulan, bahwa aksi ini adalah bentuk protes teman-teman wartawan kepada Kepala BI atas subjektifitasnya memberikan statement yang melukai hati. Sejauh ini tentu saya akan mendukung, saya juga cukup lama bekerja di salah satu media elektronik dan banyak berinterkasi dengan para wartawan. Perlu diketahui, menjalani profesi sebagai wartawan itu tidaklah mudah, senantiasa menyajikan informasi kepada masyarakat, sebisa mungkin menyediakan berita terkini yang kita juga tahu minat baca di Indonesia khususnya di Mamuju sangatlah kurang, terik sinar matahari dan hujan menjadi teman menuju TKP, menemui narasumber telah menjadi rutinitas mereka.  Demi apa? Demi untuk menjadi pewarta yang profesional di bidangnya. Tapi setelah itu di judge seenak udelnya yah tentu mereka akan teriak. 

Saya juga tidak lantas menyalahkan Kepala BI atas pernyataannya, sebab, bisa saja beliau memang menemukan oknum wartawan yang seperti itu. Tapi dengan menuduh tanpa mememberikan klarifikasi yang jelas tentu akan berimbas pada integritas teman-teman wartawan itu sendiri dan tentulah ini sebuah kekeliruan.

Lalu ada apa dengan “Pakaian dalam perempuan”?

Kemarahan atas pelecehan kepada teman-teman wartawan berujung pada pelecehan mereka kepada kaum perempuan. Bagiku, itu sama saja dengan melawan kesalahan dengan kesalahan pula. Saya tidak pernah sedikitpun mempersoalkan muatan aksi teman-teman, yang kutahu, ini dilakukan atas berbagai pertimbangan yang kemudian disepakati. Tapi pertimbangan seperti apa yang membenarkan “Pakaian dalam perempuan” menjadi alat peraga aksi?  belum lagi isu yang dibawa sangat tidak ada kaitannya terhadap permasalahan perempuan.

Sampai saat permintaan maaf telah diberikan secara tidak langsung melalui media sosial, saya pun masih merasa geram. Koordinator Aksi dengan disertai klarifikasi telah meminta maaf kepada semua kaum perempuan kalau merasa tersakiti, itupun kalau merasa, kalau tidak yah sudah diamkan. Beberapa teman-teman wartawan yang tergabung dalam aksi tersebut malah menganggap bahwa meminta maaf bukanlah hal yang perlu dilakukan, bahkan ada yang mengatakan bahwa atas dasar apa perempuan harus marah? Dan juga yang paling menohok perhatian, katanya, itu digunakan sebagai simbol “Tak Beraninya orang mengakui kesalahannya". Woi, hubungannya di mana? Segitu hinanyakah pakaian kami?

Respect seketika hilang, yang muncul hanya satu kesimpulan bahwa ini adalah pelecehan. Teman-teman wartawan tak semestinya menggunakan “Pakaian Dalam Perempuan” sebagai alat peraga dalam aksi demonstrasi, atas alasan apapun itu tidaklah bisa untuk dibenarkan. Menyampaikan aspirasi maupun kritikan semestinya dengan cara-cara cerdas, bukan malah menanggalkan sebuah kebenaran, bahwa sesuatu yang kalian gunakan sebagai simbol perlawanan tidak selayaknya menjadi konsumsi publik. Kalian perlu mengetahui bahwa sesuatu yang kalian anggap remeh itu adalah kebutuhan bagi kami (baca;Perempuan). Sesuatu yang kamipun akan merasa malu ketika dilihat oleh orang lain secara sengaja dan terus menerus, bahkan kami akan berusaha untuk menaruhnya di tempat yang sebisa mungkin tidak menjadi hal yang mudah terdeteksi oleh sepasang mata dan pemikiran mesum di dalam kepala.

Ini juga sebagai isyarat kemunduran. Usaha untuk menghalau segala bentuk eksploitasi, diskriminasi dan segala stigma negatif terhadap perempuan seketika kutemui tak berjalan beriringan dengan isi kepala sebagian lelaki. Sangat memprihatinkan, mengapa hal seperti ini bisa terjadi di tanah Malaqbi’ yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur sebagai masyarakat yang mulia, terhormat, dan bermartabat ? ahh.. lagi-lagi kegeraman memenuhiku.

Sejauh ini, persoalan tersebut masih seperti angin lewat, hanya sebagaian kecil media online yang memuat berita atas pengecaman kaum perempuan terhadap kelakuan teman-teman wartawan yang menjadikan “pakaian dalam perempuan” sebagai simbol perlawanan dalam aksi demonstrasi menuntut pencopotan Kepala Bank Indonesia (BI) Sulbar. Loh kok bisa? Yah bisalah, wong yang menjadi tuan atas ada/tidaknya pemberitaan kan teman-teman jurnalis, yang senantiasa mengedukasi masyarakat dengan penyajian berita dan informasi yang penting. Jadi gimana? Yah kesimpulan sementara yang bisa kita ambil bahwa teman-teman wartawan memang tidak mengindahkan itu. Merasa bahwa apa yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang harus membuat kalangan tertentu dalam hal ini perempuan untuk tersinggung, meski pada akhirnya mereka pun tahu bahwa kami kaum perempuan merasa tersinggung atas kelakuan tidak etis tersebut.

Setelah tahu lalu apa? Jawabannya singkat, LALU NYINYIR dan melakuan pembenaran sana sini, ditegaskan pula dalam komentar di salah satu status facebook teman perempuan yang juga merasa dilecehkan atas perbuatan teman-teman wartawan, katanya, kenapa kalian harus marah ketika kami menggunakan itu sebagai simbol? Toh, isinya juga diperjual belikan kalian tidak protes. What? Diperjual belikan? Dan kamu menganggap itu biasa saja? Kamu ini apa? Wartawan atau? Ahh sudahlah, saya cukup tahu isi kepalamu yang tidak beres. Saya hanya berharap pemikiranmu tidak berlaku secara universal kepada perempuan, kasian perempuan yang telah susah payah melahirkan dan membesarkanmu, kakak dan adik perempuanmu, serta teman-teman perempuanmu. Kamu secara tidak langsung menanggalkan label keindahan dan menjatuhkan kehormatan dalam diri perempuan dengan nyinyiran perempuan sebagai pelampiasan hawa nafsu para lelaki bejat yang diakhiri dengan lembaran rupiah.

Terakhir, sampai kapanpun perempuan akan tetap menjadi second people, sumber pelecehan, objek diskriminasi dan intimidasi jika yang tertanam dalam pikiran adalah konotasi negatif tentang perempuan. Upaya untuk menyelaraskan opini publik bahwa sejatinya laki-laki dan perempuan adalah manusia yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara dan sebagai hamba Tuhan di atas derasnya pengaruh kultural suatu daerah merupakan kesiasiaan ketika cara berfikir tak bermuara pada rasionalitas setiap insan. Ini era modern, era millenial, era di mana persoalan gender dan sex bukan lagi hal yang perlu diperdebatkan. Semua tahu, konsekuensi dari jenis kelamin biologis dan jenis kelamin sosial adalah perbedaan peran. Yang perlu kita lakukan adalah tidak melampaui hal-hal yang memang sifatya kodrati dan hal-hal yang sifatnya bisa untuk dipertukarkan.

Atas nama cinta dan kasih sayang, teruntuk saudaraku, kakak-kakakku, yang tergabung dalam profesi wartawan, ucapan maafmu mungkin akan meredakan kegeraman yang kami alami, tapi ingat, sejarah telah mencatat kejadian tersebut. Harapanku, Semoga hal seperti ini tidak terulang kembali dan semua kita kembali mengintrospeksi diri atas segala tindakan yang telah diperbuat baik secara sadar maupun tidak sadar telah melukai orang-orang yang ada di sekitar kita. Manusia tempatnya khilaf dan dosa, untuk itu saya juga memohon maaf jika dalam tulisan inipun terdapat kalimat yang tanpa sepengetahuan saya akan menyinggung teman-teman.

#SalamCare
Sipakatau' Sipakala'bi'

Sajak Patah Hati

Untuk seseorang yang benar-benar kurindukan malam ini, semoga kabarmu baik di sana. malam ini aku tak kuasa menahan malu kepada lan...