Minggu, 19 Agustus 2018

Sudahkah langkahmu memiliki arah?


Sumber : Google

Hari ini adalah hari dimana aku kembali memulai aktivitas setelah pulih dari sakit dan beberapa hari terakhir memilih beristirahat di rumah. Harapan terbesarku hanya satu, menuntaskan rasa rindu yang begitu menggebu. Sebelumnya kuucapkan terima kasih kepada Tuhan, Ibuku, kakak-kakakku dan teman terkerenku, rasa sakit yang menggerogoti jazadku menemui titik akhir lewat doamu yang terapal dengan rapi, terbang bersama cinta dan menggemah menuju sang Maha Penyembuh.

Benar, bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang keren, kita harus merelakan sesuatu yang keren pula dalam hidup. Salah satunya adalah meninggalkan beberapa aktivitas demi tubuh yang sejak lama  merindukan istirahat yang cukup dan pola hidup sehat. Berada di rumah lebih lama dari biasanya membuatku punya waktu untuk lebih dekat lagi dengan diriku. Loh, bukannya kita tidak pernah terlepas dari diri kita? Hehe iya juga yah. Tapi itu jawabanmu. Tentang itu, aku memiliki pandangan yang sedikit berbeda.

Mengutip perkataan Ihsan Abdul Quddus dalam novelnya, setiap orang memiliki dua sisi: satu untuk orang lain, satu untuk dirinya sendiri dan mustahil menyatukan keduanya. Lewat kutipan tersebut, aku mencoba mencari maksud penulis kelahiran mesir itu dengan cara menemukan jawabannya lewat diriku sendiri. Mengapa? Karena objek riset yang paling mudah dan efektif yang bisa digunakan dalam kondisi yang kurang fit adalah diri sendiri. Meski hasilnya tentu sangat subjektif, tetapi menjadikannya sebagai rentetan dalam proses perenungan tentu adalah hal yang sah-sah saja untuk dilakukan.

Hasilnya, ternyata memang benar, aku juga menemukan bahwa kepribadian itu terbentuk atas ruang lingkup yang kita tempati, kemampuanmu dalam bereaksi dan berinteraksi akan terbentuk seperti dan sebanyak kelompok sosial yang kamu tergabung di dalamnya. Yah, aku melihat diriku di sana, bersama anak-anak, berdiskusi dengan pemuda, bergurau bersama kawan, melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk orang banyak, demi apa? Demi satu kata, bahagia. Untuk satu sisi, semua include dalam satu kesimpulan, yaitu “Bernilai”.

Namun ada sisi lain yang tentu sangat membutuhkan perhatian. Agar lebih memudahkan diriku dalam membedakan, kunamai ia sisi kelemahan. Meski terdengar memberi kesan negatif, kelemahan di sini kuartikan sebagai ruang-ruang yang sulit kuterjemahkan dalam hidupku, sisi yang terkadang banyak menguras energi untuk sekadar memberinya kepastian atas pilihan yang ada. Nah, untuk sisi pertama tentu sudah bisa ditebak yah namanya apa. Tapi skali lagi saya tekankan, penamaan tersebut hanya digunakan untuk memudahkanku saja dalam membedakan dua sisi tadi, bukan untuk mendikotomi mereka dengan predikat baik ataupun buruk.

Untuk sisi kelemahan, sebelum kujelaskan, hari ini bacaanku berakhir pada halaman 70 pada sebuah buku berjudul arah langkah yang menjadi heboh karena keteledoran jasa pengiriminan, hingga berujung dengan sangat terpaksa aku menghilangkan rasa malu meminta bantuan dan sedikit menyusahkan pacar bung Fiersa Besari, neng Aqia. Menarik, sebuah kata terakhir sebelum memasuki bab selanjutnya, katanya, mulai sekarang, aku harus mensyukuri realitas yang pernah aku miliki, daripada terus mengejar fiksi yang tak pernah kumiliki. Coba kita renungkan bersama apa maksud bung mengatakan itu? Kalau yang sudah baca pasti tahu, kalau yang belum, gak papadeh menyesuaikan dengan realitas hidup masing-masing.

Mungkin di antara pembaca hari ini, ada yang bertanya, apa hubungannya ingin menjelaskan sisi kelemahan dengan memberitahukan hasil bacaan? Jika benar ada yang bertanya seperti itu, maka akan kujawab dengan senang hati, dan jika tak ada yang bertanya tentang itu, maka aku akan tetap menjawabnya, bukan dengan senang hati, melainkan dengan hati yang ikhlas. Sisi kelemahan yang sengaja kuberikan eksistensi dalam diriku sangat erat kaitannya dengan judul bukul “Arah Langkah”. Arah langkah, dua kata yang tentu setiap kita punya pendapat yang berbeda tentangnya. Arah langkah, dua kata yang akan menjelaskan mengapa engkau memilih hidup dan tak memilih mati. Arah langkah, dua kata yang akan menunjukkan siapa yang layak dan tidak layak untuk kita perjuangkan.

Kembali ke sisi kelemahan. Sebuah sisi yang lebih realistis dibanding sisi yang kuartikan sebagai kekuatan. Bagaimana cara menemukannya? Sederhana, tapi tak sesederhana yang kita bayangkan, setidaknya itu kesimpulan yang bisa kuberikan setelah benar-benar terlibat dalam misi pencaharian tersebut. Pertama, mulailah dengan merenung, dari mana asalmu, di manakah kamu berada dan hendak kemanakah dirimu berakhir? Apa yang ingin kamu lakukan, apa yang telah kamu lakukan dan apa yang hendak kamu lakukan? Dan sekelumit pertanyaan yang hanya bisa diperoleh melalui perenungan. Dari sisi ini, kutemui kesimpulan yang menakjubkan, sisi yang mestinya lebih dulu kita temui dalam hidup, sebuah sisi yang akan menghantarkan kita “Menjadi Manusia”.

Terakhir, Yang paling terpenting dari sebuah perjalanan adalah kita mengetahui alasan untuk memulai. Tentang dua sisi yang dikatakan penulis novel tersebut, benar bahwa keduanya tak bisa disatukan, masing-masing memiliki keberadaan. Namun, ia berada pada satu eksistensi, yang tak terpisah oleh ruang dan waktu. Untuk perjalanan panjang yang pernah kulalui, bagiku hanya ada dua, “Menjadi Manusia” lalu “Bernilai”.

Agustus 2018
Mamuju

1 komentar:

Sajak Patah Hati

Untuk seseorang yang benar-benar kurindukan malam ini, semoga kabarmu baik di sana. malam ini aku tak kuasa menahan malu kepada lan...