Hari berganti bulan
dan bulan berganti tahun. Kulewati dengan segenap kekuatan yang bersumber dari
sang pencipta. Dengan sisa usia yang kuyakini semakin mendekat dengan akhir,
satu hal yang paling ingin kulakukan, yaitu bermanfaat, lagi dan lagi.
Mengapa bermanfaat?
Bagiku, menjadi
bermanfaat adalah sebuah kewajiban, sebuah ajang untuk mendeskripsikan
eksistensi dan penunjukan rasa terima kasih atas segala limpahan kasi sayang
Tuhan kepada hambaNya. Kamu ada karena kamu bergerak, kamu ada karena kamu berbuat
dan bermaanfaatlah maka kamu Ada.
Manusia. seperti
angin, kadang ia datang menjadi penyejuk dan menenangkan, terkadang ia juga
datang menjadi penyulut api lalu berujung debu, terhempas, hingga menghilang.
Dalam hidup, ada yang datang lalu pergi, hidup lalu mati, muda lalu tua, sehat
lalu sakit dan segala tetek bengek prosesi alam semesta adalah sebuah
keniscayaan bagi makhluk ciptaan.
Dalam moment
peringatan hari lahirku kali ini, ada begitu banyak hal yang patut untuk
kusyukuri. Ibu masih terlihat sehat dan mampu melakukan aktivitasnya seperti
biasa, saudara-saudaraku masih konsisten dengan rasa kepedulian yang sangat
tinggi pada adik bungsunya, teman-temanku yang keren dan selalu ada,
kakak-kakakku yang tak berasal dari rahim yang sama, yang senantiasa memberikan
wejangan serta motivasi untuk senantiasa semangat dan optimis, kuucapkan terima
kasih, banyak kekuatanku dimotori kehadiran kalian, dan satu hal yang pasti,
dari itu semua, ayah yang telah lama meninggalkanku akan legah mengetahui
banyak orang-orang yang peduli dengan anaknya. Peduli berarti menjaga, ia tentu
akan senang. Sebab, menjagaku adalah hal yang tak mungkin bisa ia lakukan lagi saat ini. Dari
itu, aku juga mencoba mengubah pola, berjanji bahwa aku yang akan menjaga diriku
untuk ayahku.
Kembali menyendiri dan
merenungi segala apa yang telah kulakukan kini menjadu kebiasaan, apatah lagi saat
pergantian usia. Ulang tahun bukanlah moment berhura-hura, melainkan waktu yang
sangat cocok untuk kembali merefleksi perjalanan tahunan kita. Dimulai dengan
mensyukuri segala apa yang telah didapatkan dan menyorot kembali apa yang telah
dilakukan. Tujuannya apa? Cukup sederhana namun tak sesederhana ketika kita
akan melakukannya. Manusia adalah makhluk yang sangat terbatas, kadangkala
khilaf dan terinfeksi virus egoisme akut, menjadi lupa telah menerima
pemakluman dalam kehidupan, dan itu sering disebut manusiawi. Maka dari itu
merenung adalah solusi cerdas yang bisa kita lakukan untuk mengevaluasi diri
dengan capaian-capaian yang sebelumnya kita rancang untuk dipenuhi.
Terakhir, ayah aku
rindu. Sangat rindu. Kamu tentu tahu, aku senantiasa mengakrabkan diri pada
beberapa ayah teman-temanku, bukan pura-pura baik, lebih dari itu, kadangkala
ada usapan di kepala yang biasa ia berikan, seperti dulu kau mengusap kepalaku
saat memberikan nasehat. Aku masih butuh itu, kau tau itu kan?. Ayah, tulisan
ini dibuat dengan air mata kerinduan yang mendalam akan sosokmu. Aku ingin
mengungkapkannya pada ibu, tapi tak ada sepatah katapun yang mampu keluar dari
mulutku saat menatap wajahnya, yang ada hanya air mata yang mengalir deras dan aku
memilih tenggelam di pelukannya.
Ayah, ibu semakin
menua, aku takut ia akan meninggalkanku juga. Aku takut tak mampu membawa diri
untuk sekadar bangkit setelah terpuruk. Meski aku telah cukup dewasa untuk
meyakini bahwa semua yang dari padaNya akan kembali kepadaNya, satu hal yang
perlu ayah dan ibu tahu, bagiku, selamanya aku hanyalah anak kecil di hadapan
kalian, yang senantiasa butuh asupan cinta dan kasih sayang. Terima kasih telah
menghadirkanku ke dunia ini. Aku bahagia menjadi anakmu.
Mamuju,
01 Juli 2018.
Nannach
Sarliana
