Kamis, 22 Februari 2018

Menyoal 2017 ; Sebuah Catatan Perjalanan

Tahun ini ada begitu banyak peristiwa yang terjadi dalam hidupku. Dimulai dengan merayakan tahun baru bersama keluarga dipenghujung tahun 2016, ini untuk pertama kalinya, sebab biasanya aku akan menghabiskan waktu dengan teman-teman.

Januari kulewati dengan tanpa status mahasiswa lagi. Sejak desember 2016 lalu, aku telah resmi menjadi alumni di salah satu perguruan tinggi yang ada di kotaku. Melewatinya dalam kurun waktu 4 tahun tentu tidak semudah mengatakan kata "Horeee... Akhirnya Aku Sarjana". Banyak kisah yang diwarnai dengan kebahagiaan, saat dimana kesusahan menjadikanku sebagai teman, saat diri berupaya mengandalkan kemampuan sendiri untuk bisa menyelesaikan studi, dan saat di mana penantian berakhir bahagia. Itulah romantika dunia kampus. Benar, bahwasanya aku masih merindukan moment tersebut.

Februari Hingga April, aku lebih banyak menghabiskan waktu di kota Makassar. Keluargaku sedang dirundung duka. Salah satu anggota keluarga, tepatnya anak ke 2 kakakku telah didiagnosa oleh dokter mengidap TB Kelenjar. Tentang detail penyakitnya aku juga tidak tahu. Yang pasti setelah mengetahuinya, kami diberikan selembar surat rujukan untuk melakukan pemeriksaan secara intens di salah satu Rumah Sakit di Kota Makassar. Setelah melewati proses panjang, akhirnya dokter memutuskan akan melakukan tindakan operasi. Tentu kami sekeluarga panik, anak usia 8 bulan akan dioperasi? Itu mengerikan. Tapi kami melewati itu dengan tetap berdoa agar kebaikan senantiasa bersama kami. Operasinya berjalan lancar dan kondisi keponakanmu semakin membaik. 

Mei bersama Aliansi Pemuda Peduli Kemanusiaan (APPK Sul-Bar).
Menjadi Relawan Kemanusiaan telah kutekuni sejak terdaftar sebagai mahasiswa. Baik atas nama komunitas, Organisasi maupun atas nama pribadi. Dari persoalan kesehatan, bencana alam hingga pendidikan. 

Mengapa ingin menjadi Relawan? Kan nggak dibayar, capek dan ngabisin uang.

Ini adalah pertanyaan yang paling banyak kudapatkan setelah massif berbagi moment di media sosial tentang gerakan-gerakan kemanusiaan yang dilakukan bersama teman-teman APPK. Dan pertanyaan itu yang kemudian kujadikan sebagai motivasi untuk senantiasa berbuat atas nama kemanusiaan. Sebenarnya saya tidak perlu menjawab pertanyaan yang sifatnya tidak tahu diri. Loh, kok tidak tahu diri? Yah, Kata apalagi gang cocok untuk manusia yang tidak berperikemanusiaan? memberikan pertolongan hanya jika ia mendapati keuntungan di dalamnya. Sungguh hidup ini begitu asik bahkan untuk sekedar memikirkan problematika sosial yang ada.

Juni dengan tawaran-tawaran... 
Sarjana, Lalu apa? Pertanyaan yang kemudian banyak menyita waktu untuk sekedar menanggapi. Mindset kebanyakan orang tentang rentetan kehidupan kurang lebih kayak gini, dimulai dari kuliah, sarjana, kerja, dapat gaji, menikah, punya anak, lalu tua dan mati. Sangat kompleks. Tapi tentu tak sedikit juga orang diluaran sana memiliki pemikiran berbeda.

Tentang pekerjaan. Aku sehari-harinya bekerja si salah satu stasiun radio di kotaku. Sejak 2014 aku telah bekerja sebagai penyiar radio disana hingga saat ini. Aku tidak menghabiskan waktu banyak untuk bekerja, hanya kurang lebih 3-5 jam perharinya. Kalau ditanya tentang gaji, aku sering menjawab kayak gini, penyiar radio itu gajinya kecil, karena menyesuaikan jam kerja kami. Hehehehe. Tapi bagiku itu lebih dari cukup. Menjadi pekerja paruh waktu meniscayakan kuota waktu luang lebih banyak. Dan aku suka itu. Aku punya banyak waktu untuk berorganisasi, ikut dalam kegiatan-kegiatan sosial dan masih banyak lagi. 

Kenapa gak kerja di *Blablabla, gajinya lebih tinggi dan lain sebagainya. Bukannya tidak mau, tapi saat ini aku masih mencintai apa yang kulakukan dan merasa cukup dengan apa yang telah kuhasilkan dari bekerja. Bagiku, hidup bukanlah hanya sekedar mengumpulkan pundi-pundi rupiah, lebih dari itu hidup adalah proses mencari jati diri. Selayaknya pesan iman Ali, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.

Juli dengan usia baru. Benar, bahwa bulan kelahiran seyogyanya memberikan semangat baru, seolah membuka pintu-pintu harapan untuk tetap bergerak maju melakukan banyak hal. Bagiku, Juli bukan hanya sekedar nama bulan ke tujuh dalam penanggalan masehi, lebih dari itu ia adalah titik awal dan akhirku untuk memulai dan kembali mengevaluasi. Juli ke Juli telah menggenapkan diri dalam kurun waktu satu tahun. Perjalanan panjang kurang lebih 365 hari telah membingkai momen yang syarat akan gambaran pencapaian, entah itu semakin membaik atau malah menurun. 

Saat ini usiaku 24 tahun. Wah, ternyata sudah tua yah. Itu adalah salah satu tanggapan yang senantiasa hinggap di telingaku. Kebanyakan menganggap bahwa perempuan yang sudah berusia 24 tahun adalah perempuan yang sudah matang. Entahlah, tolak ukur kematangannya apa, tapi satu hal yang pasti katanya, ini adalah usia ideal perempuan untuk berganti status. Status? Hmmm... bukan status media sosial yah, melainkan status dari lajang menjadi seorang istri. Kurang lebih seperti itu arah pembicaraannya. 

Trus aku gimana? Tentu tetap menanggapi, dengan tidak memaksakan sesuatu diluar dari keinginan ku sendiri. Jadi begini, bagiku menikah itu sesuatu yang sakral dalam perjalanan kehidupan, menjadi perempuan dengan berbagai peran yang akan diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari tentulah bukan hal yang mudah. Menjadi masyarakat pada umumnya, menjadi seorang anak,  istri lalu ibu adalah rentetan status yang akan melekat pada diri seorang perempuan. Lalu apakah diri ini sudah memiliku bekal? Jawabannya tentu belum. Aku belum memiliki bekal untuk melangkah lebih jauh mengubah statusku saat ini. Aku masih menikmati indahnya berproses. Dan yang ingin kusampaikan bahwa usia tidak meniscayakan kematangan seseorang. 

Sampai pada pandanganku yang kuyakini sebagai kebenaran dan keharusan kelakuan, aku menemukan ruang dimana ia akhirnya tidak berarti apa-apa. Ruang dimana pemikiranku menuju liang lahat. Mati dan berakhir pada kesimpulan baru, kesimpulan yang berasal dari keinginan seseorang ibu. Ibu menginginkan aku segera menikah. Banyak kekhawatiran di kepalanya tentang anak gadisnya yang masih melajang di usianya yang sekarang. Lalu aku? Tentu mengubah segalanya, memulai dari nol lagi, dan memilih untuk mengindahkan keinginan ibu. 

Juli mempersingkat waktu menuju Agustus.
Untuk keputusan yang baru kuambil, membuka diri adalah salah satu jalannya. Hingga akhirnya, ada yang datang menawarkan kebagiaan, ada yang datang menawarkan cinta dan ada yang datang menawarkan masa depan. Lalu? Aku memilih ia yang datang menawarkan perjuangan. Kenapa? Karena kebahagian, cinta dan masa depan akan lebih mudah terukur dari sejauh mana anda bisa berusaha dan berjuang, dimulai dari penyatuan visi dan misi dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Yah begitulah aku. Aku adalah aku yang akan senantiasa mengindahkan perkataan dan keinginan sang ibunda diatas keinginanku tanpa merusak aturan-aturan yang telah kubuat dalam hidupku. Hingga akhirnya kisah antara aku dan dia memulai ceritanya... (cut)

Agustus bersama anak pemulung sampah.
Kotaku telah mengalami perubahan cukup signifikan. Maraknya anak-anak usia sekolah berkeliaran di jalan memunguti sampah; kardus, botol minuman bekas, jualan stiker, kue dll. Jika seseorang yang ditawari stiker enggan untuk membeli, maka sang anak tersebut mengganti tawarannya dengan meminta uang, katanya untuk sedekah. Yang berhasil mendapatkan kardus dan botol minuman bekas juga akan pergi membawanya ke tempat di mana proses transaksi jual beli dilakukan, tepatnya di sebuah gedung bekas samping kantorku. Berbagai alasan mereka lontarkan ketika ditanya alasan mereka jualan stiker maupun memulung sampah, ada yang dimintah oleh orang tuanya, ada yang katanya akan digunakan untuk jajan di sekolah, dan seolah menjadi rahasia bersama, umumnya masyarakat tahu, bahwa apa yang dilakukan oleh anak-anak ini adalah atas dasar perintah satu orang, yang kemudian menjadi titik akhir penjalanan penghasilan mereka dalam jualan stiker maupun meminta sedekah. Gambaran yang beberapa tahun ini mudah ditemukan di kotaku.

Di suatu sore aku ingin pulang kerumah kost setelah siaran. Sebelum membunyikan mesin motorku, tetiba mataku tertuju pada empat orang anak yang sedang asik bermain, hari ini mereka tidak pergi untuk mencari kardus maupun botol minum bekas. Segera kudekati dan kusapa. Awalnya tak mendapat respon yang baik, bahkan kata-kata kasar dan tidak sopan dengan mudah mereka lontarkan padaku. Aku awalnya ingin langsung pulang saja, karena sangat tidak suka dengan tindakan mereka, tapi kembali kuurungkan niatku, ketika melihat seorang dari mereka menjadi korban bullyan dari beberapa temannya. Hahahaha bodoh, makanya sekolahko supaya pintarko. Segera kutemui mereka dan mencoba hadir sebagai teman. Akhirnya mereka bisa mrnerima. Hingga akhirnya saya pun mengetahui bahwa dari empat anak tersebut, dua diantaranya tidak bersekolah dan sisanya bersekolah, masing-masing kelas 1 dan 2 SD. Inisiatif untuk membuat kelas belajar bersama mereka pun hadir. Hari-hari selanjutnya setiap datang ke studio, aku akan tetap mendapat sambutan dari anak-anak pemulung. Kelas belajar berjalan, mereka antusias ingin belajar, meski tak mudah bagiku yang tidak memiliki basic apapun untuk mengajar. Aku memulainya dengan membuat perjanjian-perjanjian untuk tidak menggunakan kata-kata kasar dan kebiasaan-kebiasaan seperti memberi salam ketika datang dan pulang. 

Aku mulai kebingungan, mengenai metode pengajaran dan bahan ajar yang pas untuk mereka. Hingga temanku mengenalkanku dengan salah seorang pegiat literasi yang cukup terkenal di kotaku. Kami memilih bertemu dan membahas banyak hal, khususnya kelangsungan pendidikan anak-anak pemulung tadi. Tapi dikarenakan beliau juga sedang menggarap sebuah film dokumenter yang tentu membuatnya sibuk dan tidak sempat menemui anak-anak tersebut. Hingga akhirnya akupun menemui banyak aktivitas yang membuat waktu untuk kelas belajar berkurang bahkan kadang tak dibuka. Hingga beberapa kali kutemui anak-anak dengan wajah kecewa jika kutemui hanya ingin memberikan informasi bahwa kelas tak ada karena aku punya kegiatan lain yang tidak bisa ditinggal. 

September hingga oktober.
Awal september tepatnya tanggal 5 kembali kami (red: Kader HmI) memperingati hari lahir Korps HmI-Wati (Kohati). Kali ini yang ke 51 tahun. Kami memilih untuk merayakannya bersama adik-adik di pelosok kota. Bersama teman-teman kohati kami menggelar "sehari bersama kohati" dengan berbagai rangkaian kegiatan yang telah kami susun.

Peringatan secara nasional pun sempat kuikuti, tepatnya di jakarta selama 4 hari. Kohati seindonesia bergabung dalam kegiatan Workshop Kepemimpinan Perempuan yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Kohati. Teman baru dan pengetahuan baru adalah hasilnya. 

Pertama kalinya menginjakkan kaki di kota metropolitan malah membuatku ingin cepat-cepat pulang kekampung halaman. Rindu? Tentu saja. Tapi tahu tidak apa yang aku rindukan? Adalah suasana jalan yang tidak macet, adalah akses cepat dan Dia. Eh. Aku rindu naik motor dengan nyaman tanpa harus macet-macetan, aku rindu akses yang seharus dijangkau dalam waktu 10 menit dengan naik mobil tapi di jakarta malah bisa ditempuh minimal sejam bahkan lebih.

"Kamu kapan pulang? Kamu masih di jakarta yah? Filmku tgl 5 mau tayang perdana, datang yah." Pesan dari kakak pegiat literasi yang diatas sempat dibahas di atas. Hehe

Ternyata filmnya lolos 5 besar. Film dokumenter berjudul mengeja belantara yang sebelum negara api menyerang judulnya adalah sekolah kolong tanpa seragam. Kegiatanku berakhir tanggal 3. Dan aku masih stay di Jakarta sampai tanggal 7, kenapa? Gak papa, hanya ada beberapa tempat yang ingin aku kunjungi dan termasuk ingin meluangkan waktu untuk nonton film dokumenter hasil karya teman sekampung yang lolos di eagle award 2017. Terakhir, pokonya dia keren dan sekolah kolong, aku mau kesana.

November di Sekolah Alam, Sekolah Kolong Tanpa Seragam. 
Apa yang ada di film adalah apa yang benar-benar ada di Sekolah Alam. Setelah beberapa kali melakukan pertemuan dengan teman-teman relawan peduli sekolah kolong dan menyiapkan segalanya untuk pemberangkatan menuju desa Salule'bo, kecamatan topoyo, kabupaten mamuju tengah, provinsi Sulawesi Barat tepat di mana Sekolah Alam berada, akhirnya aku benar-benar menginjakkan kaki disana. Bertemu dengan penggagas sekolah alam, adik-adik dan masyarakat yang begitu ramah. Aku menemui banyak hal yang luar biasa. Tentang kekuatan cinta, idealisme, kasih sayang yang bgitu mendalam, kecerian, semangat yang luar biasa. Terima kasih slalu kuucapkan pada Tuhan atas kesempatan yang diberika padaku untuk bertemu dengan orang-orang yang baik dan kemudian memperkenalkan kebaikan-kebaikan itu padaku.

Desember. Bulan perpisahan.
Perpisahan itu tercatat di bulan Desember. Menyisakan kenangan yang cukuplah bagiku untuk tidak lagi menyesali segala keputusan yang telah kuambil. Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, karena sehabis Desember adalah Januari yang telah siap siaga menerima kehadiran kita. Hahaha (cut)

Terakhir, semoga 2018 senantiasa memberikan ruang untuk berbuat kebaikan-kebaikan kepada sesama.

----------------------------------------------
#catatanakhir

Sajak Patah Hati

Untuk seseorang yang benar-benar kurindukan malam ini, semoga kabarmu baik di sana. malam ini aku tak kuasa menahan malu kepada lan...